Faktor Usia
Dia menduga daya pasok PLTU tersebut mengalami penurunan gegara faktor usia, perawatan, hingga permasalahan lainnya.
Satya juga khawatir persoalan tersebut terjadi gegara kualitas pasokan batu bara yang digunakan tidak sesuai dengan spesifikasi pembangkit.
“Nah ini tidak boleh ya melanggar misalkan spek dari pada batu bara yang ditentukan untuk PLTU tersebut karena kalau dilakukan apa hal-hal yang mungkin out of spec itu akan menurunkan kemampuan daya mampu mereka,” tegas Satya.
Satya menegaskan ketika PLTU mengalami kendala dan harus dilakukan pemadaman bergilir, maka pemadaman yang dilakukan seharusnya dapat diestimasikan terjadi berpala lama.
Frekuensi pemadaman dan waktu pemadaman juga menjadi tolok ukur keandalan sistem kelistrikan nasional, termasuk memengaruhi indeks ketahanan energi nasional.
“Jadi itu menurut hemat saya perlu apa namanya kita coba cermati, maka audit teknologi untuk masing-masing PLTU itu diperlukan pak supaya kita mengetahui secara pasti karakteristiknya gitu ya,” ujarnya.
“Karena apa yang yang beredar sekarang ini di publik kan tidak terlalu clear ya sebetulnya apa yang terjadi gitu maka paling tidak, kita tidak bisa cuma menyalahkan dari sisi batu baranya saja tetapi aspek teknis juga harus menjadi satu kesatuan di dalam evaluasi kita ke depan,” tegas Satya.
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengungkapkan dua PLTU batu bara yang sempat mengalami gangguan adalah PLTU Cilacap 1 dan PLTU Cilacap 4 atau 3A.
Plt Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Tri Winarno mengklaim tak terjadi kendala pada dua unit pembangkit di PLTU Cilacap, melainkan hanya dilakukan perawatan atau maintenance.
“PLTU itu PLTU Cilacap 1 sama 4. Gitu, insyaallah sudah enggak ada masalah kira-kira. Sebenarnya maintenance sih,” kata Tri kepada awak media di Kantor Kementerian ESDM, Senin (22/6/2026).
Adapun, PLTU Cilacap 1 berkapasitas 300 MW dan beroperasi secara komersial pada September 2006 menggunakan teknologi subcritical boiler. Sedangkan PLTU Cilacap 4 atau 3A berkapasitas 1000 MW dan beroperasi komersial pada 2019.
Sebelum itu, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengungkapkan tiga penyebab terjadinya pemadaman bergilir yang sempat melanda sejumlah wilayah di Pulau Jawa.
Adapun, PLTGU Jawa 1 sempat disebut-sebut menjadi salah satu penyebab pemadaman bergilir tersebut, tetapi PT Jawa Satu Power selaku pengelola menyatakan pembangkit beroperasi normal meskipun terdapat pemeliharaan.
Penyebab kedua, lanjut Bahlil, permasalahan dalam pemenuhan batu bara kalori medium untuk pembangkit PLN dan swasta.
Dia menegaskan dari total kebutuhan PLTU sebesar 154 juta ton, 134 juta ton kontrak batu bara telah diteken kontraknya.
Selain itu, Kementerian ESDM juga sudah menugaskan perusahaan batu bara untuk memasok 180—190 juta ton batu bara ke PLTU PLN dan swasta.
“Sebenarnya secara kontrak dengan PLN dengan pengusaha 134 juta untuk satu tahun. Sekarang kan baru bulan 6, itu harusnya no issue. Ternyata yang PLN keluhkan itu atau PLN minta itu adalah kalori yang medium untuk blending,” kata Bahlil kepada awak media di Kompleks Istana Kepresidenan, Senin (22/6/2026).
Bahlil juga menegaskan Kementerian ESDM telah membantu PLN untuk bisa mendapatkan batu bara kualitas sedang yang dibutuhkan pembangkit.
Persoalan ketiga, bahlil meminta PLN untuk segera melakukan pemeliharaan sistem pembangkit dan jaringan kelistrikan agar layanan setrum masyarakat tetap andal.
“Tadi PLN menyampaikan kepada saya dalam rapat bahwa mulai hari ini itu sudah tidak ada terjadi gangguan lagi. Itu menurut Dirut PLN ya. Karena urusan teknis terhadap pelayanan operasional listrik itu ada pada PLN. Pemerintah itu regulator,” ujar Bahlil.
Sekadar informasi, Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian ESDM mencatat per April 2026, produksi listrik Pulau Jawa—Bali mencapai 87,43 terawatt hour (TWh) .
Dari besaran itu, PLTU batu bara mendominasi produksi listrik di Jawa—Bali dengan porsi 71% dari total produksi listrik.
Setelah itu, pembangkit listrik tenaga gas (PLTG) memiliki porsi sebesar 16,6% dari total produksi listrik.
Kemudian, pembangkit listrik energi baru terbarukan (EBT) memiliki porsi sekitar 10,01% dari total produksi listrik. Di sisi lain, masih terdapat pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) dengan porsi 2,34%.
Secara umum, produksi listrik nasional per April 2026 mencapai 165,51 TWh. Dari besaran itu, PLTU batu bara mendominasi dengan porsi 64,87% dari total produksi listrik.
Kemudian, pembangkit EBT menyusul dengan porsi 17,89%. Lalu, PLTG memiliki porsi 13,86%. Selain itu, produksi listrik nasional dari PLTD mencapai 3,38%.
Lebih lanjut, sepanjang Januari hingga Maret 2026 daya mampu pasok (DMP) sistem kelistrikan Jawa Madura Bali (Jamali) mencapai 35,67 gigawatt (GW).
Beban puncak tertinggi tercatat sebesar 32,7 GW. Sementara itu, cadangan operasi mencapai 2,97 GW atau setara 9,1% cadangan operasi.
(azr/wdh)





























