Perkembangan baru di Timur Tengah itu belakangan ikut menekan bursa saham di Asia.
Kontrak berjangka (futures) indeks saham untuk pasar Jepang, Korea Selatan, dan Australia mengindikasikan pembukaan yang melemah pada perdagangan Rabu (8/7/2026).
Sejumlah bursa di Asia itu mengekor indeks acuan Wall Street rontok semalam, di mana indeks sektor semikonduktor anjlok lebih dari 4%.
Sementara itu, kontrak S&P 500 terpantau bergerak stabil di awal sesi Asia setelah indeks acuan tersebut turun 0,4% pada perdagangan Selasa kemarin. Adapun indeks Nasdaq 100 melorot hingga 1,8%.
Kendati demikian, Analis Teknikal BRI Danareksa Sekuritas, Reza Diofanda mengatakan IHSG masih berpeluang menguat secara teknikal. Reza menyematkan titik suport di level 7.734 dan resistance psikologis di 6.000.
"Penembusan level 6.000 akan menjadi konfirmasi awal berlanjutnya momentum rebound," kata Reza.
Sementara itu, Analis Teknikal MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana menilai penguatan IHSG masih didukung meningkatnya volume pembelian dan berhasil menembus level MA20.
"Posisi IHSG masih berpeluang melanjutkan penguatan untuk menguji area 6.083 hingga 6.203," kata Herditya.
Potensi Frontier
Belakangan, &P Dow Jones Indices memasukkan Indonesia ke dalam daftar negara yang berpotensi mengalami reklasifikasi pasar pada tahun 2027.
Malahan, penyedia indeks global itu mewanti-wanti saham Indonesia bisa digeser ke klasifikasi special measures atau frontier apabila persoalan transparansi dan likuiditas pasar belum terselesaikan.
“Apabila kondisi memburuk, S&P DJI dapat mempertimbangkan untuk menerapkan perlakuan khusus (special measures) terhadap saham-saham Indonesia,” dikutip dari pengumuman resmi S&P DJI, Rabu (8/7/2026).
Kendati demikian, S&P DJI terus memantau perkembangan terkait transparansi kepemilikan saham di Indonesia dengan mengacu pada panduan baru yang diterbitkan Bursa Efek Indonesia.
Langkah itu diambil untuk mengatasi kekhawatiran mengenai keterbukaan informasi dan potensi dampaknya terhadap likuiditas pasar.
“Apabila berbagai persoalan tersebut masih belum terselesaikan dalam waktu satu tahun kalender sejak special measures mulai diberlakukan, maka klasifikasi pasar Indonesia akan dievaluasi kembali dalam tinjauan tahunan berikutnya,” dikutip dari keterangan yang sama.
Indonesia masuk ke dalam daftar pantauan atau watchlist S&P DJI bersama dengan Turki dan Nigeria. Kedua negara yang disebut terakhir juga berpotensi untuk dipindahkan ke klasifikasi special measures atau frontier. Klasifikasi pasar Turki saat ini emerging sementara Nigeria di pasar standalone.
Sikap S&P Dow Jones Indices keluar setelah MSCI Inc membekukan saham Indonesia dalam review indeks Agustus 2026.
Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Liza Camelia Suryanata menerangkan investor asing berbasis indeks belum punya alasan kuat untuk menambah eksposur sampai akhir tahun ini.
“Ruang rerating tetap terbatas karena investor asing berbasis indeks belum punya alasan kuat untuk menambah eksposur sebelum ada kejelasan November,” kata Liza lewat catatannya, Rabu (8/7/2026).
Liza menambahkan nilai transaksi yang menyusut menunjukkan conviction pasar masih rendah. Menurut dia, situasi itu memperlihatkan penguatan IHSG belakangan belum ditopang partisipasi pasar yang kuat.
(naw)


























