Logo Bloomberg Technoz

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa penguatan pasokan batu bara ke India sebenarnya bukan hal baru, melainkan kelanjutan dari komitmen yang sudah berjalan intensif belakangan ini.

"Kita tahu bahwa salah satu negara tujuan utama ekspor batu bara kita adalah India. Langkah [penguatan] itu sudah kita lakukan sejak dua hingga tiga hari lalu, sebelum kedatangan Perdana Menteri India," kata Bahlil.

Bahlil menegaskan pemerintah Indonesia berkomitmen penuh untuk menjaga dan meningkatkan kualitas hubungan bilateral ini ke tingkat yang lebih produktif.

"Prinsipnya adalah kerja sama hubungan bilateral yang sudah sangat baik ini akan kita tingkatkan dan kita komitmenkan untuk diwujudkan," pungkasnya.

Sebagai informasi, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), kinerja ekspor batu bara Indonesia sepanjang tahun 2025 tercatat mengalami penurunan sebesar 19,70% secara tahunan dengan total nilai mencapai US$24,48 miliar dan volume pengiriman sebesar 390,93 juta ton. 

Penurunan ini berlanjut pada periode Januari hingga Mei 2026, di mana volume ekspor kumulatif menyusut 8,19% secara year-on-year (yoy) menjadi 143,56 juta ton dengan nilai US$9,75 miliar, yang dipicu oleh kebijakan pemangkasan target produksi domestik serta melambatnya permintaan global.

Meskipun terjadi tren penurunan, pasar Asia tetap mendominasi secara mutlak dengan India dan China sebagai dua negara tujuan ekspor terbesar bagi emas hitam Indonesia. 

Sepanjang tahun 2025, India berada di peringkat pertama dengan menyerap volume ekspor hingga 100,2 juta ton untuk memenuhi tingginya kebutuhan pembangkit listrik mereka. 

Adapun China di posisi kedua dengan total impor sekitar 81,7 juta ton, meski menunjukkan tren penurunan karena mereka mulai meningkatkan produksi domestik dan beralih ke pasokan Rusia dan Australia. 

Dominasi kedua negara ini tetap bertahan kuat hingga periode berjalan tahun 2026. Sebagai contoh, selama lima bulan pertama (Januari–Mei 2026), India mengimpor sebanyak 36,80 juta ton batu bara dari Indonesia, sementara China mengekor di posisi kedua dengan total serapan mencapai 23,51 juta ton. 

Di luar dua negara tersebut, Filipina mengamankan posisi ketiga sebagai pasar utama di kawasan Asia Tenggara dengan volume impor mencapai 37,7 juta ton sepanjang 2025 dan mengantongi 15,68 juta ton pada periode Januari–Mei 2026. 

Volume impor ketiganya kemudian diikuti secara ketat oleh negara tujuan utama lainnya seperti Vietnam, Malaysia, dan Jepang.

— Dengan asistensi laporan dari Dovana Hasiana

(smr/ros)

No more pages