Logo Bloomberg Technoz

Menurut Waller, Warsh bukan sedang mengubah komitmen The Fed terhadap target inflasi 2%, tetapi hanya menengaskan kembali komitmen tersebut. Dengan kata lain, perubahan yang terjadi saat ini lebih pada cara The Fed berkomunikasi, bukan pada tujuan maupun kerangka dasar kebijakan moneternya. 

Bagi pelaku pasar, kepastian mengenai cara The Fed menyampaikan arah kebijakannya akan jadi faktor penting dalam membentuk ekspektasi suku bunga. Pernyataan Waller tersebut setidaknya mengurangi ketidakpastian bahwa The Fed akan mengambil langkah yang lebih agresif atau sulit diprediksi di bawah kepemimpinan baru. 

Namun bagi rupiah, sentimen eksternal ini tak sepenuhnya dapat menopang penguatan lebih lanjut. Sebab, mata uang Garuda sedang diliputi berbagai sentimen domestik.

Pertama, rupiah dibayangi aksi outflow yang terjadi di pasar saham akibat sentimen MSCI. Kedua, defisit yang menimpa neraca dagang dan neraca transaksi berjalan serta defisit yang terjadi dari sisi fiskal masih membayangi pergerakan rupiah dan memangkas sebagian prospek pertumbuhan ekonomi domestik. 

Meski begitu, menurut Ekonom Citi Helmi Arman, seperti dikutip Bloomberg News, defisit transaksi berjalan akan menyempit sekitar 1% dari Produk Domestik Bruto (PDB) pada kuartal III-2026, lalu akan semakin turun di bawah 1% pada kuartal IV. Menurutnya, perbaikan ini ditopang oleh penurunan harga minyak, peningkatan produksi sektor pertambangan, dan adanya perlambatan impor. 

Namun, terbatasnya kepastian arah kebijakan masih membuat pertumbuhan investasi sektor swasta dan investasi asing langsung (FDI) menjadi tertahan dan berpotensi melemah. Kondisi ini membuat Indonesia menjadi semakin bergantung pada arus masuk investasi portofolio seperti surat utang, sehingga meningkatkan kerentanan rupiah terhadap perubahan sentimen pasar. 

Di tengah kondisi ini, Lionel Priyadi Fixed Income & Macro Strategist Mega Capital Sekuritas, menilai rupiah akan menguji level psikologis Rp18.000/US$ dengan target pergerakan di kisaran Rp18.000-Rp18.100/US$. 

Selain itu, pasar juga akan mencermati posisi cadangan devisa RI yang akan dirilis hari ini. Cadangan devisa tercatat menurun dalam lima bulan beruntun dan berada di US$144,9 miliar per akhir Mei, setara 5,5 bulan pembayaran impor dan utang luar negeri pemerintah.

(dsp/aji)

No more pages