Pelemahan yang serempak menimpa mata uang Asia terjadi lantaran dolar AS menguat dan mencatat kenaikan pertama dalam sesi perdagangan terakhir kemarin, di tengah sentimen pelaku pasar yang mencermati kesepakatan OPEC+ untuk meningkatkan kuota produksi minyak. Di sisi lain, investor juga menantikan risalah rapat kebijakan moneter Federal Reserve bulan Juni yang akan dirilis pekan ini.
Rupiah disebut masih menjadi salah satu mata uang yang paling rentan di kawasan, menurut Wee Khoon Chong, Strategis Asia Pasifik di BNY, seperti dikutip Bloomberg News.
Dia menilai arus keluar modal asing yang terus terjadi di pasar saham, tingginya yield obligasi pemerintah tenor panjang, serta mahalnya kontrak forwards rupiah tenor pendek masih mencerminkan tekanan yang mendasari pasar valuta asing RI.
Helmi Arman, Ekonom Citi, memperkirakan kelemahan struktural masih dapat membatasi laju penguatan rupiah meski neraca transaksi berjalan Indonesia diperkirakan akan membaik pada kuartal III-2026 dan akan membuat tekanan terhadap rupiah dapat mereda.
Menurut Sufianti, Strategist Bloomberg Intelligence, upaya Indonesia untuk memilihkan kepercayaan investor asing harus dimulai dengan menghentikan derasnya arus keluar modal asing dari pasar saham domestik.
Meskipun masih terdapat akumulasi pembelian secara selektif oleh investor jangka panjang, yang jadi indikasi masih adanya minat terhadap aset domestik, tetapi sinyal tersebut belum cukup kuat untuk membalikkan sentimen pasar secara keseluruhan.
Dia menyebut, agar arus modal asing kembali mengalir secara berkelanjutan, pemerintah perlu menghadirkan reformasi yang tepat sasaran, tepat waktu, dan kredibel. Di saat yang sama, meredanya berbagai risiko eksternal juga jadi prasyarat penting bagi pemulihan kepercayaan investor.
"Dalam proses tersebut, arus dana ke sektor keuangan diperkirakan akan menjadi indikator utama yang menandai kembalinya minat investor," sebut Sufianti dalam catatannya.
Untuk diketahui, gelobang aksi jual investor asing di pasar RI dipicu oleh kombinasi sejumlah faktor, di antaranya semakin menurunnya bobot Indonesia dalam MSCI Index, serta premi risiko yang tetap tinggi akibat kekhawatiran terhadap prospek peringkat kredit Indonesia.
Pekan lalu, Fitch Ratings menyebut dapat menurunkan peringkat utang RI jika cadangan devisa kembali menyusut dan berada di bawah batas rata-rata negara BBB yakni 5 bulan pembayaran impor dan utang luar negeri.
Hari ini, perhatian pelaku pasar akan tertuju pada rilisnya angka cadangan devisa RI. Setelah sejak awal tahun cadangan devisa telah menyusut secara beruntun dalam lima bulan terakhir dan berada di posisi US$144,9 miliar setara dengan 5,5 bulan pembayaran impor dan utang luar negeri.
Analisis Teknikal
Secara teknikal, rupiah masih berisiko melemah hari ini. Target pelemahan terdekat menembus Rp18.000/US$ yang merupakan support pertama dengan target pelemahan kedua berpotensi tertahan di level Rp18.050/US$.
Selama nantinya nilai rupiah bertengger di atas level psikologis tersebut usai tertekan, maka masih ada kemungkinan untuk lanjut melemah hingga mencapai Rp18.100/US$ hingga Rp18.200/US$.
Sementara itu, trendline sebelumnya pada time frame harian menjadi resistance psikologis potensial yaitu Rp17.950/US$. Kemudian target penguatan lanjutan adalah Rp17.900/US$.
(riset/aji)































