Logo Bloomberg Technoz

Neraca perdagangan Indonesia mencatat defisit sebesar US$1,61 miliar pada Mei 2026. Ini merupakan defisit pertama sejak April 2020, dan mengindikasikan adanya perubahan struktur perdagangan RI. 

Penyebabnya, nilai impor naik 22,16% menjadi US$24,81 miliar, dengan nilai impor migas yang melonjak 70,78% menjadi US$4,51 miliar dari posisi yang sama tahun lalu  sebesar US$2,64 miliar. Sementara, impor non-migas juga tercatat naik 14,89% menjadi US$20,3 miliar dari US$17,57 miliar. 

Sedangkan, nilai ekspor yang terkontraksi 5,73% secara tahunan menjadi US$23,2 miliar. Penurunan terjadi secara luas baik pada ekspor migas maupun nonmigas. Pengiriman produk energi melemah tajam, dengan ekspor minyak mentah praktis tidak tercatat lagi, sementara ekspor gas alam merosot lebih dari 44%. 

Di tengah pelemahan fundamental ekonomi ini, pelaku pasar mencermati posisi cadangan devisa RI yang berada di US$144,9 miliar, setara dengan 5,5 bulan pembayaran impor dan utang luar negeri.

Angka ini memang berada jauh di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor. Tapi, bagi pelaku pasar, besarnya cadangan devisa tak cuma dinilai dari kecukupannya, tapi juga kecepatannya terkikis, terlebih jika terus digunakan untuk stabilisasi rupiah. 

Fitch Ratings bahkan memperkirakan cadangan devisa RI pada 2026 hanya mampu menutup sekitar 4,9 bulan kebutuhan pembayaran eksternal pemerintah, sedikit di bawah median negara-negara dengan peringkat BBB yang mencapai 5 bulan.

Jika cadangan devisa RI menyusut lebih lanjut, Fitch memperingatkan dapat menurunkan peringkat utang Indonesia. Sebab, median cadangan devisa negara-negara dengan peringkat BBB, peringkat yang sama dengan posisi Indonesia saat ini, berada di posisi 5 bulan pembayaran impor dan utang luar negeri. 

Untuk diketahui, Fitch menaikkan peringkat utang Indonesia menjadi BBB- (investment grade) pada 15 Desember 2011, dan menjadi BBB pada 20 Desember 2017. 

(dsp)

No more pages