Alasan Korting Produksi RI Tak Terbangkan Nikel ke Atas US$20.000
Azura Yumna Ramadani Purnama
25 June 2026 12:40

Bloomberg Technoz, Jakarta – Kebijakan pemangkasan produksi bijih dan menurunnya utilitas smelter nikel di Indonesia dinilai tidak bakal memicu harga nikel melonjak ke level US$20.000/ton, hingga akhirnya memicu fenomena short squeeze massal seperti pada 2022.
Analis komoditas dan Founder Traderindo Wahyu Laksono menegaskan tidak terulangnya fenomena short squeeze kali ini disebabkan tiga faktor utama a.l. melambatnya permintaan, cadangan yang mencukupi, dan meningkatnya produksi dari negara kompetitor.
“Selama sentimen makro masih defensif dan inventaris LME [London Metal Exchange] tetap menumpuk, plafon harga nikel di US$19.500—US$20.000 akan menjadi level resistance psikologis dan teknikal yang sangat tangguh untuk ditembus,” kata Wahyu ketika dihubungi, Kamis (25/6/2026).
Permintaan Melambat
Wahyu menyatakan sejumlah lembaga internasional memprediksi konsumsi nikel global mengalami perlambatan pertumbuhan pada tahun ini menjadi ke kisaran 3%, dibandingkan dengan tahun lalu yang mencapai 5,8%.






























