Logo Bloomberg Technoz

Selain itu, permintaan nikel untuk industri baja nirkarat di Eropa dan China masih stagnan akibat pemulihan ekonomi global yang lambat. 

Dia juga meyakini permintaan nikel melambat gegara terdapat penurunan pangsa pasar baterai kendaraan listrik atau electric vehicle (EV) berbasis nickel manganese cobalt (NMC).

“Adopsi baterai NMC cenderung melambat dan baru diprediksi akan kembali mendominasi saat teknologi solid-state battery siap dikomersialkan dalam skala besar,” tegas dia.

Cadangan Global

Lebih lanjut, Wahyu menilai short squeeze ekstrem yang sempat terjadi pada 2022 sangat bergantung dengan permintaan dan produksi nikel.

Saat ini, kata dia, kondisi tersebut sulit terulang karena stok nikel di London Metal Exchange (LME) dan Shanghai Futures Exchange (SHFE) berada di level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir mendekati 275.000 ton.

“Persediaan yang melimpah ini bertindak sebagai bantalan atau buffer yang meredam setiap guncangan pasokan mendadak,” ungkap Wahyu.

Surplus di pasar nikel./dok. BMI

Produksi Kompetitor

Meski kuota produksi bijih nikel Indonesia tahun ini dipangkas menjadi 260—270 juta ton, Wahyu menilai pelarangan ekspor bijih dari Zimbabwe dan insentif pemrosesan domestik di Indonesia mengubah peta struktural nikel.

“Namun, pasokan global secara agregat masih mencatatkan surplus struktural akibat efisiensi pengolahan nikel kelas 2 menjadi kelas 1,” tegas dia.

Untuk diketahui, beberapa kebijakan Indonesia akhir-akhir ini diyakini memengaruhi harga nikel dunia.

Pertama, pemangkasan kuota produksi dalam RKAB 2026 menjadi sekitar 260—270 juta ton atau turun dari realisasi 2025 sebesar 320,37 juta ton.

Kedua, revisi formula harga patokan mineral (HPM) nikel juga digadang-gadang memperkuat harga bijih nikel.

Ketiga, rencana kenaikan tarif royalti juga sempat menyulut kenaikan harga, meski akhirnya wacana tersebut ditunda.

Proyeksi harga nikel./dok. BMI

Forum Industri Nikel Indonesia (FINI) mencatat sejumlah smelter pirometalurgi berteknologi rotary kiln electric furnace (RKEF) di Indonesia mengalami kekurangan pasokan bijih nikel, sehingga menurunkan utilitasnya menjadi di bawah 50%.

Ketua Umum FINI Arif Perdana Kusumah mengungkapkan kondisi tersebut terjadi di sejumlah lini operasi produksi smelter RKEF di Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, dan Maluku Utara.

Arif menyatakan hal tersebut dilakukan agar tungku pembakaran atau furnace dapat dijaga tetap hangat untuk menghindari penundaan pengoperasian kembali yang bisa memakan waktu lama dan risiko kerusakan refraktori pada tungku pembakaran, jika harus dilakukan penghentian total.

“Beberapa lini produksi operasi RKEF di Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara dan Maluku Utara saat ini telah beralih ke apa yang kami sebut 'hot idle' atau beroperasi di bawah 50% kapasitas,” kata Arif saat dihubungi baru-baru ini.

Nikel dilego di harga US$16.818/ton pada di London Metal Exchange (LME) hari ini, Kamis (25/6/2026), turun 2,06% dari penutupan sebelumnya..

Nikel sempat mencapai rekor di atas US$100.000/ton pada Maret 2022 akibat short squeeze pasar, tetapi sejak itu harga menurun tajam.

Sepanjang 2024, harga menyentuh rekor terendah dalam 4 tahun terakhir setelah sebelumnya diproyeksikan mencapai US$18.000/ton, turun dari perkiraan sebelumnya di level US$20.000/ton, menurut lengan riset dari Fitch Solutions Company, BMI.

Gejala ambruknya harga nikel sudah terdeteksi sejak 2023. Rerata harga saat itu berada di angka US$21.688/ton atau terjun bebas 15,3% dari tahun sebelumnya US$25.618/ton.

Kemerosotan itu dipicu oleh pasar yang terlalu jenuh ditambah dengan lesunya permintaan.

(azr/wdh)

No more pages