Basis penggemar Elon Musk di kalangan investor ritel disebut menjadi faktor penting dalam kesuksesan IPO ini. Investor individu disebut telah mengajukan pesanan pembelian saham senilai lebih dari US$100 miliar, jauh melampaui porsi 20% saham yang disediakan untuk mereka.
Meski demikian, tidak semua pihak antusias. Investor short seller veteran James Chanos menyebut IPO ini sebagai “aksi korporasi yang didorong harapan dan mimpi”, dengan valuasi yang lebih ditopang oleh popularitas Elon Musk dan optimisme terhadap kecerdasan buatan (AI) dibandingkan fundamental bisnis perusahaan yang belum mencetak laba.
Namun, perubahan aturan yang berpotensi mempercepat masuknya saham SpaceX ke indeks-indeks utama seperti Nasdaq- 00 diperkirakan akan menarik minat dana pasif dan investor yang tidak mendapatkan saham saat IPO. Hal ini diyakini akan menciptakan permintaan kuat ketika saham mulai diperdagangkan di pasar.
Menurut Kim Forrest, CIO Bokeh Capital Partners, SpaceX mungkin merupakan IPO paling sarat akan harapan yang pernah ada. Ia menilai para pembeli saham SpaceX ingin menjadi bagian dari masa depan, terutama di tengah pasar yang terus bergerak antara sentimen keserakahan dan ketakutan.
SpaceX menjadi yang pertama dari tiga IPO besar yang diperkirakan memanfaatkan tingginya minat investor terhadap perusahaan-perusahaan AI. Dua pesaingnya, Anthropic dan OpenAI, diperkirakan juga akan mencatatkan sahamnya di bursa dalam waktu dekat dengan valuasi yang masing-masing dapat melampaui US$1 triliun.
Kesuksesan IPO SpaceX akan menjadi indikator penting bagi investor modal ventura di Silicon Valley dan pelaku pasar Wall Street guna menilai prospek IPO perusahaan AI lainnya. Namun, derasnya pasokan saham baru ke pasar juga memunculkan pertanyaan, apakah permintaan investor cukup besar untuk menyerap semuanya.
Keunggulan SpaceX sebagai pelopor membuat valuasinya terus melonjak. Akuisisi perusahaan AI milik Elon Musk, xAI, pada Februari lalu mendorong valuasi gabungan perusahaan menjadi US$1,25 triliun, sementara valuasi SpaceX sendiri mencapai sekitar US$1 triliun. Angka tersebut naik dari sekitar US$800 miliar pada transaksi penjualan saham internal Desember lalu.
Pada harga IPO US$135 per saham, SpaceX langsung masuk dalam daftar 10 perusahaan publik terbesar dunia, bahkan melampaui nilai pasar Tesla.
Lonjakan valuasi ini mencerminkan transformasi SpaceX dalam enam bulan terakhir. Perusahaan yang sebelumnya dikenal sebagai operator peluncuran roket dan layanan internet satelit kini berupaya menjadi raksasa AI.
Kontrak penyediaan infrastruktur komputasi untuk Anthropic dan Google milik Alphabet dengan nilai hingga US$2,17 miliar per bulan diproyeksikan menjadi sumber pendapatan terbesar perusahaan.
Elon Musk mempromosikan visi jangka panjangnya yang menempatkan SpaceX sebagai pusat pembangunan pusat data di luar angkasa dan pabrik robot di Bulan. Narasi tersebut muncul di saat yang tepat ketika investor global tengah berlomba-lomba menanamkan modal pada sektor AI.
Meski demikian, sebagian besar rencana SpaceX untuk menguasai pasar AI senilai US$26,5 triliun masih bergantung pada teknologi yang belum ada atau belum pernah diterapkan dalam skala besar. Selain itu, perusahaan juga menghadapi persaingan ketat dari Anthropic dan OpenAI, yang chatbot-nya saat ini lebih banyak digunakan dibandingkan Grok milik xAI.
Elon Musk Makin Tajir
Menurut perhitungan Bloomberg Billionaires Index, kekayaan Elon Musk akan bertambah sekitar US$275 miliar setelah IPO SpaceX, sehingga total kekayaannya mencapai sekitar US$970 miliar atau sekitar Rp17.338 triliun atau Rp17,3 kuadriliun. Nilai kepemilikan saham dan opsi SpaceX miliknya mencapai sekitar US$688 miliar.
Jika perdagangan saham SpaceX berjalan sukses setelah debut di bursa, Elon Musk berpotensi menjadi triliuner pertama di dunia. Kekayaannya bahkan bisa meningkat lebih jauh apabila ia memenuhi target-target kinerja tertentu yang akan memberinya hak atas hingga 1,3 miliar saham tambahan.
Target tersebut tidak mudah. Kapitalisasi pasar SpaceX harus mencapai US$7,5 triliun. Perusahaan juga harus membangun pusat data di luar Bumi yang mampu menyediakan daya komputasi 100 terawatt per tahun, serta mendirikan koloni manusia permanen di Mars dengan populasi sedikitnya satu juta orang.
Setelah IPO, Elon Musk tetap mengendalikan sekitar 84% hak suara perusahaan, sehingga secara efektif ia tetap memiliki kendali penuh atas pemilihan dewan direksi dan posisinya sebagai CEO.
IPO ini juga memberikan keuntungan besar bagi investor awal, karyawan, dan berbagai dana investasi yang telah mendukung SpaceX.
Di luar Elon Musk, Valor Equity Partners menjadi pemegang saham terbesar kedua dengan kepemilikan sekitar 6,7% saham Kelas A. Presiden SpaceX Gwynne Shotwell dan Chief Financial Officer (CFO) Bret Johnsen juga memiliki jutaan saham dan opsi saham perusahaan. Bank-bank besar yang memimpin IPO ini antara lain Goldman Sachs, Morgan Stanley, Bank of America, Citigroup, dan JPMorgan Chase, bersama 18 bank lainnya yang ikut berpartisipasi.
(red)




























