Meski begitu, para pelaku pasar sepertinya masih menunggu sinyal yang lebih kuat terkait stabilitas fiskal dan arah kebijakan ekonomi pemerintah, di tengah kekhawatiran pelaku pasar terkait tata kelola program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Baru-baru ini, pemerintah tengah upaya penataan sistem distribusi, dan penyesuaian anggaran MBG. Namun, masalah operasional seperti ekspansi dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang melebihi target masih menjadi kekhawatiran pelaku pasar.
Kehati-hatian investor juga masih tercermin dari tingginya imbal hasil Surat Utang Negara (SUN). Sebagian besar tenor mencatat kenaikan imbal hasil, seperti tenor 1 tahun naik 3,5 basis poin (bps) menjadi 7,29%, tenor 6 tahun naik 1,6 bps menjadi 7,49%.
Namun, tenor acuan 10 tahun mulai diburu pasar dengan penurunan imbal hasil 2,2 bps menjadi 7,42% dan tenor 11 tahun turun 12,3 bps menjadi 7,4%.
Di sisi lain, keberhasilan Danantara menghimpun US$1,5 miliar melalui penerbitan obligasi dolar global perdana memberikan sedikit angin segar.
Tingginya permintaan investor terhadap instrumen tersebut menunjukkan bahwa minat terhadap aset Indonesia belum sepenuhnya hilang. Meski demikian, pasar masih membutuhkan bukti bahwa pemerintah mampu menjaga disiplin fiskal dan memberikan kepastian kebijakan dalam jangka panjang.
Dari pasar kawasan, terpangkasnya harga minyak mentah dunia disambut positif. Won Korea Selatan memimpin rebound, diikuti oleh baht Thailand, rupiah, ringgit Malaysia, yuan China, dolar Hong Kong.
Sedangkan yen Jepang, bersama dolar Taiwan, dolar Singapura, dan yuan offshore masih bergerak di zona merah.
Meski sebagian mata uang Asia masih melemah, sentimen positif tetap tercermin di pasar saham kawasan. Bursa Jepang dan Australia menguat sehingga mendorong MSCI Asia Pacific Index naik 2%. Sementara itu, indeks Kospi Korea Selatan melonjak hingga 7%, ditopang reli saham-saham teknologi dan kecerdasan buatan (AI).
Optimisme investor menguat setelah muncul sinyal bahwa Amerika Serikat (AS) dan Iran semakin dekat dengan penyelesaian diplomatik, sehingga pasar mulai memperkirakan konflik Timur Tengah tidak akan meluas.
"Meski jalan menuju penyelesaian kemungkinan tidak mulus, skenario dasar kami adalah diplomasi pada akhirnya menang sehingga investor dapat kembali fokus pada fundamental ekonomi yang kuat dan pertumbuhan laba yang solid," kata Ulrike Hoffmann-Burchardi dari UBS, seperti dikutip Bloomberg News.
(dsp)



























