Logo Bloomberg Technoz

Mengukur Dampak Kenaikan Harga Pertamax ke Inflasi

Redaksi
11 June 2026 16:29

Pengendara mengisi bbm Pertamax di SPBU Pertamina, Jakarta, Rabu (10/6/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Pengendara mengisi bbm Pertamax di SPBU Pertamina, Jakarta, Rabu (10/6/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi jenis Pertamax sebesar 32,11% menjadi Rp16.250/US$ sepertinya terjadi pada saat kondisi perekonomian Indonesia sedang kurang ideal. 

Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga Roberth MV Dumatubun menjelaskan, penyesuaian harga BBM nonsubsidi mengikuti aturan yang berlaku.

“Penyesuaian harga Pertamax dan Pertamax Green dilakukan setelah melalui proses evaluasi sesuai formula harga yang ditetapkan pemerintah,” kata Roberth dalam siaran pers, Rabu (10/6/2026).


Di tengah pelemahan rupiah yang masih bertahan di kisaran Rp17.993-Rp18.000/US$, tingginya harga minyak mentah dunia akibat ketegangan geopolitik, serta daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya pulih, penyesuaian harga energi berpotensi menjadi sumber tekanan inflasi baru pada paruh kedua tahun 2026. 

Secara nominal, kenaikan harga BBM nonsubsidi kali ini memang tak sebesar penyesuaian harga BBM non-subsidi seperti yang terjadi pada jenis Dexlite dan Pertamina Dex. Selain itu, pengguna utamanya berasal dari kelompok masyarakat menengah atas dan sektor usaha tertentu, sehingga dampak langsung terhadap inflasi nasional dianggap relatif terbatas.