Mengapa Rupiah Terus Melemah, Meski Ekonomi Tidak Krisis?
Dian Sari Pertiwi
09 June 2026 11:35

Bloomberg Technoz, Jakarta - Tren depresiasi rupiah yang berlangsung sejak awal tahun 2026, dan semakin menguat pada kuartal kedua, memunculkan pertanyaan: apa yang sebenarnya membedakan pelemahan rupiah kali ini dengan episode-episode tekanan sebelumnya?
Dalam tiga dekade terakhir, Indonesia telah mengalami berbagai episode pelemahan nilai tukar, mulai dari krisis Asia 1998, krisis keuangan global 2008, gejolak taper tantrum 2013, pandemi Covid-19 pada 2020, hingga tekanan lain juga sempat muncul pada 2025, yang digerakkan oleh tekanan eksternal serta kondisi kebijakan domestik.
Meski pelemahan rupiah terjadi pada episode-episode tersebut, namun ternyata akar masalah, respons pasar, dan konsekuensi ekonomi yang terjadi tak pernah benar-benar identik.
Sekilas, memang pelemahan rupiah terjadi akibat penguatan dolar AS, arus modal asing keluar dari pasar negara berkembang, lalu Bank Indonesia (BI) harus menguras cadangan devisa untuk kembali menjaga stabilitas nilai tukar. Namun, ternyata sumber tekanan kali ini memiliki karakter yang berbeda.
Episode Depresiasi Rupiah
Pada episode krisis 1998, pelemahan rupiah dipicu oleh guncangan eksternal yang sangat besar. Krisis itu terjadi akibat adanya kerentanan domestik, dan gejolak yang terjadi di pasar regional.






























