"Faktor global menjelaskan mengapa hampir semua mata uang negara berkembang tertekan, tetapi faktor domestik menjelaskan mengapa rupiah dapat melemah lebih dalam dan IHSG terkoreksi lebih tajam. Dengan kata lain, tekanan luar negeri menyalakan api, tetapi ketidakpastian kebijakan domestik memperbesar rambatannya," kata Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede.
Dari pasar Surat Berharga Negara (SBN), kenaikan imbal hasil menggambarkan tingginya premi risiko yang diganjar pasar terhadap aset domestik.
Di pasar Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), yang selama ini jadi salah satu alat utama bank sentral untuk menarik dana dan menopang nilai tukar. Imbal hasil SRBI juga secara konsisten mengalami kenaikan di seluruh tenor.
Imbal hasil tenor 3 bulan naik dari 6,47% menjadi 6,62%, tenor 6 bulan naik dari 6,69% menjadi 6,87%, sementara tenor 12 bulan melonjak dari 6,94% menjadi 7,24%.
Meski begitu, kenaikan imbal hasil tersebut tetap disokong oleh minat investor yang cukup tinggi dengan adanya lonjakan volume transaksi. Misalnya, untuk SRBI tenor 12 bulan volume perdagangan melesat dari Rp405 miliar menjadi hampir Rp7 triliun dalam sehari.
Di saat yang sama, Kementerian Keuangan melaporkan bahwa pemerintah telah menarik utang baru sebesar Rp386 triliun hingga Mei 2026, jumlah ini setara dengan 46% dari target pembiayaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tahun ini.
Sementara, cadangan devisa RI turun US$1,3 miliar menggenapi penurunan sepanjang tahun ini menjadi US$11,57 miliar, hingga devisa tersisa US$144,9 miliar.
Meski demikian, posisi cadangan devisa saat ini masih tergolong kuat sebagai bantalan eksternal yang setara dengan sekitar 5,7 bulan impor atau jauh di atas standar kecukupan untuk memenuhi kewajiban pembayaran luar negeri jangka pendek masih relatif terjaga.
Di tengah kombinasi harga energi yang bertahan tinggi, penguatan dolar AS, dan data perekonomian domestik, ke mana arah rupiah hari ini?
Analisis Teknikal
Secara teknikal, rupiah masih ada risiko melemah hari ini. Target depresiasi terdekat menuju level Rp18.200/US$ yang merupakan support pertama dengan target pelemahan kedua berpotensi tertahan di level Rp18.250/US$.
Selama nantinya nilai rupiah bertengger di atas level terlemah sepanjang masa (all time low/ATL), maka masih ada kemungkinan untuk lanjut melemah hingga mencapai Rp18.400/US$ hingga Rp18.500/US$.
Sementara itu, trendline sebelumnya pada time frame daily menjadi resistance psikologis potensial pada level Rp18.100/US$. Kemudian, target penguatan lanjutan adalah Rp18.000/US$.
(riset/aji)



























