Mayoritas Mata Uang Asia Hijau Pagi Ini, Bagaimana Nasib Rupiah?
Tim Riset Bloomberg Technoz
23 July 2026 09:17

Bloomberg Technoz, Jakarta - Rupiah melemah di sesi pembukaan pasar spot, Kamis (23/7/2026), sebesar 0,28% menjadi Rp17.930/US$, terpicu kenaikan harga minyak mentah Brent yang kembali melonjak. Tak lama berselang rupiah memangkas sedikit pelemahannya sebesar 0,21% menjadi Rp17.918/US$.
Sebaliknya, sebagian besar mata uang kawasan kompak menguat setelah bank sentral China (People's Bank of China/PBOC) yang kembali melakukan operasi pasar terbuka untuk mengelola likuiditas domestiknya. Melansir Bloomberg, PBOC disebut menyerap likuiditas bersih sebesar CNY 422 miliar lewat instrumen reverse repo tenor 7 hari.
Pasar memandang langkah ini sebagai sinyal bahwa otoritas moneter China masih berkomitmen menjaga stabilitas pasar keuangan dan nilai tukar yuan. Stabilitas yuan, yang punya bobot besar di kawasan, pun memberi angin segar bagi mata uang Asia.
Di sisi lain, pelemahan indeks dolar Amerika Serikat (AS) juga ikut memberi ruang bagi mata uang di pasar negara berkembang untuk menguat pagi ini. Indeks dolar AS terhadap enam mata uang utama kembali menyusut 0,08% ke posisi 101,04.
Won Korea Selatan menguat paling tajam 0,5%, dan kembali diperdagangkan di bawah level psikologis KRW1.500/US$. Penguatan ini juga didorong oleh meredanya aksi peyeimbangan (rebalancing) portofolio investor asing yang terjadi di pasar saham.




























