Logo Bloomberg Technoz

Rupiah Curi Momentum Penguatan, Tertopang Mata Uang Asia

Tim Riset Bloomberg Technoz
23 July 2026 08:32

Karyawan menghitung uang rupiah di salah satu tempat penukaran mata uang di Jakarta, Kamis (4/6/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Karyawan menghitung uang rupiah di salah satu tempat penukaran mata uang di Jakarta, Kamis (4/6/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Pergerakan rupiah di pasar Non-Deliverable Forward (NDF) belum banyak berubah. Pada pembukaan perdagangan Kamis (23/7/2027), rupiah offshore melemah terbatas 0,01% ke level Rp17.967/US$ pada 07.45 WIB. Namun, menjelang pembukaan pasar spot, rupiah offshore mendapat tenaga dan menguat 0,04% ke posisi Rp17.958/US$, pada 08.27 WIB. 

Pergerakan rupiah sempat tertahan oleh harga minyak mentah yang kembali naik 1,65% ke US$95,62 per barel, meski indeks dolar Amerika Serikat (AS) sedikit terpangkas 0,03% menjadi 101,09. 

Gejolak harga minyak kembali terjadi setelah kelompok Houthi di Yaman, yang sebelumnya mengancam akan membuka lini pertempuran baru dalam perang Iran, mengklaim telah menggempur dua kapal tanker minyak di Laut Merah.


Meski demikian, pergerakan mata uang Asia relatif stabil. Won Korea Selatan menguat cukup tajam 0,3%, disusul baht Thailand, yen Jepang, dolar Singapura, yuan offshore, dan dolar Hong Kong yang menguat sangat terbatas. Sebaliknya, ringgit Malaysia melemah terbatas 0,03%. 

Pergerakan mata uang Asia yang relatif menguat, menopang pergerakan rupiah di pasar luar negeri pagi ini.

Pergerakan mata uang Asia, Kamis (23/7/2026) pagi. (Bloomberg)