Logo Bloomberg Technoz

“Ya, pasti akan nanti ada penyesuaian-penyesuaian [yang akan dilakukan perseroan]. Namun, seperti apa ya? Tergantung. Never know lah. One billion dollar question,” lanjutnya.

Pabrik pengolahan nikel PT Vale Indonesia di Sorowako, Sulawesi Selatan, Indonesia./Bloomberg-Dimas Ardian

Anto juga memastikan kondisi tersebut bakal dimanfaatkan perseroan dengan terus melakukan investasi strategis, seperti yang sudah dicanangkan sebelumnya.

“Ya sudah, kalau kita percaya bahwa nikel adalah mineral masa depan, dan buat Vale kita percaya itu, ya sudah. Semua investasi strategis yang kita lakukan, kita gas,” tegasnya.

Sebelumnya, HSBC Holdings Plc. memandang sejumlah komoditas logam dasar sedang mengalami fase super squeeze yang akan memburuk jika Selat Hormuz tetap tertutup.

“Makin lama selat ditutup, makin menipis persediaan, makin besar pula kemungkinan kita mencapai 'titik kritis' di pasar untuk beberapa komoditas,” kata analis termasuk Paul Bloxham dalam laporan 1 Juni.

Namun, mengetahui secara pasti kapan itu akan terjadi sulit untuk ditentukan, tambah mereka.

Di luar Timur Tengah, prospek luas HSBC juga menyoroti faktor-faktor bullish lainnya untuk komoditas, termasuk meningkatnya konsumsi logam dasar seperti tembaga, dan fenomena cuaca El Niño yang akan datang yang mungkin merusak pasokan panen.

Siklus komoditas secara keseluruhan tetap dalam fase yang disebut “super bull”, tetapi “ini sangat berbeda dengan ‘supercycle’ sebelumnya, karena didorong oleh gangguan pasokan,” kata para analis.

“Alih-alih ‘supercycle’, kami menyebutnya ‘super squeeze’,” kata mereka, mengutip penelitian bank sebelumnya.

Di sektor logam, harga aluminium mencapai level tertinggi dalam empat tahun, sementara tembaga berada di angka US$13.976 per ton, naik 13% tahun ini.

Untuk aluminium, "kisah permintaan strukturalnya positif, tetapi pendorong utama belakangan ini adalah kerusakan kapasitas peleburan di Timur Tengah," kata para analis.

"Kenaikan harga tembaga terutama didorong oleh permintaan."

Adapun, kuota produksi bijih nikel yang direstui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dalam Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026 untuk tambang Bahodopi Vale mencapai 2,31 juta ton, terpelanting 74% dari rencana produksi 2026 sebesar 8,8 juta ton.

Meskipun begitu, kuota produksi tersebut tercatat lebih tinggi dari realisasi produksi bijih nikel dari tambang Bahodopi pada 2025 sebanyak 2,01 juta ton.

Untuk tambang nikel Pomalaa, Vale Indonesia mendapatkan kuota produksi pada 2026 sebesar 5,8 juta ton atau anjlok 68% dibandingkan dengan target produksi tahun ini sebesar 18,06 juta ton.

Untuk produksi nikel dalam bentuk matte dari Sorowako, perseroan menargetkan produksi sebesar 67.645 ton. Target produksi masih lebih rendah 6% dari realisasi produksi pada 2025 sebanyak 72.027 ton, sebab terdapat pemeliharaan furnace atau tungku peleburan di smelter perseroan.

Berdasarkan data Kementerian ESDM, sepanjang 2025 Indonesia memproduksi sebesar 320,37 juta ton bijih nikel. Sementara itu, produksi nickel matte dilaporkan sebesar 91.500 ton dan feronikel mencapai 579.430 ton.

Untuk diketahui, beberapa kebijakan Indonesia akhir-akhir ini diyakini memengaruhi harga nikel dunia.

Pertama, pemangkasan kuota produksi dalam RKAB 2026 menjadi sekitar 260—270 juta ton atau turun dari realisasi 2025 sebesar 320,37 juta ton.

Kedua, revisi formula harga patokan mineral (HPM) nikel juga digadang-gadang memperkuat harga bijih nikel. Ketiga, rencana kenaikan tarif royalti juga sempat menyulut kenaikan harga, meski akhirnya wacana tersebut ditunda.

Harga Nikel Naik ke Level Tertinggi Dua Tahun. (Bloomberg)

Nikel dilego di harga US$18.581/ton pada di London Metal Exchange (LME) pagi ini, Senin (8/6/2026), turun 0,58% dari penutupan sebelumnya..

Nikel sempat mencapai rekor di atas US$100.000/ton pada Maret 2022 akibat short squeeze pasar, tetapi sejak itu harga menurun tajam.

Sepanjang 2024, harga menyentuh rekor terendah dalam 4 tahun terakhir setelah sebelumnya diproyeksikan mencapai US$18.000/ton, turun dari perkiraan sebelumnya di level US$20.000/ton, menurut lengan riset dari Fitch Solutions Company, BMI.

Gejala ambruknya harga nikel sudah terdeteksi sejak 2023. Rerata harga saat itu berada di angka US$21.688/ton atau terjun bebas 15,3% dari tahun sebelumnya US$25.618/ton.

Kemerosotan itu dipicu oleh pasar yang terlalu jenuh ditambah dengan lesunya permintaan.

(azr/wdh)

No more pages