“Jadi kita lakukan, dari negara-negara yang mempunyai industri-industri pengolahan minyak advance,” tambahnya.
Selain diversifikasi negara eksportir, sebagian pelaku usaha juga mulai menjajaki impor sulfur dalam bentuk sulfat. Kendati demikian, Arif memberikan catatan bahwa opsi ini membawa tantangan operasional yang jauh lebih berat.
Sulfat komersial seringkali berbentuk cair, berbeda dengan sulfur yang umumnya berbentuk bubuk (powder) atau bongkahan padat, sehingga mudah diangkut.
"Mereka impor dalam bentuk sulfat, tapi kan itu tidak mudah karena bentuknya cair. Dari sisi logistics arrangement kemudian kesulitan pengangkutan itu lebih besar dibanding sulfur," jelas Arif.
Sebelumnya, usulan diversifikasi negara eksportir sulfur juga telah diungkap Sekretaris Umum Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI) Meidy Katrin Lengkey.
“Cari sumber baru. Kita sih sudah merekomendasikan beberapa sumber. Bahkan kita sudah bikin surat resmi. Australia ada meski kecil [kapasitas produksi] dan Eropa ada di Bulgaria,” katanya saat ditemui usai agenda Indonesia Critical Minerals Conference & Expo 2026 di Jakarta, Kamis (5/6/2026).
Meidy juga mengingatkan bahwa meskipun Selat Hormuz kembali dibuka dalam waktu dekat, dampaknya tidak akan langsung menyelesaikan masalah operasional di tanah air.
"Kalaupun hari ini Selat Hormuz dibuka, apa kita langsung dapat barang? Enggak kan, butuh waktu sekitar tiga bulan karena di sana perlu masa pemulihan (recovery). Berarti kita baru dapat barang tahun depan. Artinya sampai akhir tahun ini kita tidak bisa berbuat apa-apa,” ujar dia.
Untuk jangka pendek, APNI menilai Australia adalah opsi yang paling masuk akal dari sisi efisiensi logistik. Meski produksi sulfur di Australia saat ini masih terlalu kecil untuk memenuhi kebutuhan Indonesia yang masif.
Untuk mengatasi kendala kapasitas tersebut, APNI juga menyarankan pendekatan Government-to-Government (G2G).
“Indonesia bisa menjembatani perusahaan domestik untuk melakukan investasi (chip-in) langsung pada perusahaan sulfur di Australia,” ungkap dia.
(smr/ros)



























