Sementara itu, Sekretaris Perusahaan MIDI, Suantopo Po menyebut belum terdapat wilayah operasional atau gerai Alfamidi yang terdampak secara signifikan akibat kehadiran Koperasi Desa Merah Putih, serta belum memengaruhi rantai pasok atau supply chain perseroan.
"Sampai dengan saat ini belum ada dampak material terhadap kinerja operasional Perseroan yang ditimbulkan oleh kehadiran KDMP dan juga tidak terdapat penutupan gerai yang disebabkan oleh kehadiran KDMP," kata Suantopo lewat keterbukaan informasi.
Meski demikian, perseroan mengakui kehadiran berbagai model usaha merupakan bagian dari dinamika bisnis ritel.
Perseroan menilai setiap pelaku usaha memiliki segmen pasar dan target konsumen yang berbeda sehingga dapat berjalan berdampingan dalam memenuhi kebutuhan masyarakat.
"Dari perspektif dunia usaha, setiap pelaku usaha dapat memiliki model bisnis, segmentasi dan target pasar yang berbeda sehingga dapat saling melengkapi dalam memenuhi kebutuhan masyarakat," ujar Suantopo.
Untuk menjaga daya saing, terutama di wilayah pedesaan, perseroan menyatakan akan tetap berfokus pada peningkatan kualitas layanan kepada konsumen.
Strategi tersebut mencakup kenyamanan dan kebersihan toko, kelengkapan produk, harga yang kompetitif, serta optimalisasi layanan pesan antar.
Di sisi lain, perseroan mengungkapkan belum terdapat komunikasi, rencana, maupun penjajakan kerja sama strategis dengan pihak pengelola Koperasi Desa Merah Putih.
"Sampai dengan saat ini, belum terdapat komunikasi, rencana atau penjajakan kerja sama strategis antara perseroan dengan pihak pengelola Koperasi Desa Merah Putih,” tutur dia.
Terkait prospek jangka menengah dan panjang, perseroan tetap optimistis terhadap pertumbuhan pasar ritel nasional.
Namun, perseroan tidak secara khusus mengaitkan ekspansi bisnisnya dengan keberadaan KDMP, melainkan menekankan fokus pada peningkatan layanan dan pemenuhan kebutuhan konsumen.
(cpa/naw)























