Ketangguhan Ekonomi dari Budidaya Jangkrik Curug Depok
Andrean Kristianto
20 July 2026 15:01
Bloomberg Technoz, Jakarta - Di balik permukiman warga di Jalan Pasiron, Curug, Depok, Jawa Barat, budidaya jangkrik terus bertahan sebagai sumber penghidupan. Meski jumlah peternaknya tak lagi sebanyak dulu, usaha tersebut masih dijalankan oleh sebagian warga, termasuk Rio (31).
Ia menjadi salah satu peternak yang masih mempertahankan usaha tersebut sejak merintisnya pada 2019. Menurut Rio, hampir setiap rumah di wilayahnya dahulu membudidayakan jangkrik sehingga kawasan itu dijuluki Kampung Jangkrik.
Baca Juga
“Dulu iya bisa dibilang kampung jangkrik karena dulu disini ada titiknya, disitu juga ada hampir semuanya lha jangkrik semua,” kata Rio pemilik Rio Jangkrik kepada Bloomberg Technoz, Senin (20/7).
Di halaman belakang rumah, Rio memanfaatkan tenda dan kotak-kotak sederhana sebagai tempat budidaya jangkrik. Pakan berupa pur, gedebog pisang, daun singkong diberikan secara rutin untuk menunjang pertumbuhan ternak.
Setiap hari, Rio mampu memanen sekitar 30 hingga 40 kilogram jangkrik. Hasil budidayanya dipasarkan kepada penjual pakan dan para penangkar burung.
Dalam dua bulan terakhir, harga jual jangkrik naik menjadi Rp50 ribu per kilogram. Kenaikan sekitar Rp10 ribu itu dipengaruhi cuaca pancaroba yang melanda Depok.
“Saat ini lagi sulit karena cuaca hasil ternak sedikit tidak stabil lha. Kalau sekarang lagi 50an (Rp50.000)/kilonya itu naik standarnya Rp40.000an sudah dua bulan lalu,” pungkas Rio.
Di tengah tantangan tersebut, usaha budidaya yang dijalaninya masih mampu menghasilkan omzet sekitar Rp1,2 juta per hari. Pendapatan itu diperoleh dari penjualan hasil panen yang dilakukan secara rutin.
Berdasarkan laman simkopdes.go.id, Koperasi Kelurahan Merah Putih (KKMP) Curug memiliki potensi budidaya jangkrik hingga 1 ton di lahan seluas 200 meter persegi. Potensi tersebut menjadikan budidaya jangkrik sebagai salah satu sektor ekonomi unggulan di wilayah Curug.
(dre/ain)





















