Transaksi perdagangan saham didominasi aksi jual dengan volume mencapai 40,17 miliar saham dan nilai transaksi Rp25,25 triliun. Frekuensi yang terjadi sebanyak 2,76 juta kali diperjualbelikan.
Hanya ada 69 saham yang menguat. Sedang sebanyak–banyaknya 692 saham melemah dan 54 saham lainnya enggan melaju.
Penyebab IHSG Melemah
Sejumlah saham menjadi pemberat IHSG pada perdagangan hari ini. Saham–saham barang baku, saham energi, dan saham infrastruktur mencatatkan pelemahan paling dalam, dengan masing–masing drop mencapai 9,04%, 5,61% dan 5,04%.
Jatuhnya IHSG yang begitu dalam merupakan efek langsung dari turunnya sejumlah saham big caps. Berikut daftar saham–saham big caps yang menjadi pemberat IHSG hingga menempati jajaran top losers:
- PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menekan 28,25 poin
- PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) menekan 22,07 poin
- PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) menekan 17,71 poin
- PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) menekan 10,49 poin
- PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) menekan 9,44 poin
- PT Barito Pacific Tbk (BRPT) menekan 9,33 poin
- PT Ekamas Mora Republik Tbk (MORA) menekan 8,56 poin
- PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) menekan 8,44 poin
- PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) menekan 6,79 poin
- PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) menekan 6,6 poin
Saham–saham LQ45 lain juga menjadi pendorong pelemahan IHSG, saham PT Darma Henwa Tbk (DEWA) drop 11,9%, saham PT Alamtri Minerals Indonesia Tbk (ADMR) ambles 10% dan saham PT Surya Esa Perkasa Tbk (ESSA) juga terjebak di zona merah dengan turun 9%.
Disusul oleh pelemahan saham PT Vale Indonesia Tbk (INCO) yang terjun bebas 8,6%, saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) melemah 8%, dan saham PT Indah Kiat Pulp and Paper Corp Tbk (INKP) yang melemah 7,7%.
Ambrolnya IHSG sepanjang perdagangan hari ini tersengat sentimen ekspor komoditas satu pintu melalui PT Danantara Sumber Daya Indonesia (DSI) yang mulai berlaku pada 1 Juni 2026.
Implementasi tersebut menjadi masa transisi yang mewajibkan eksportir melaporkan kegiatan ekspornya melalui DSI, di mana perusahaan atau eksportir Sumber Daya Alam (SDA) diwajibkan untuk mulai melaporkan kegiatan ekspor mereka kepada PT DSI. Adapun, periode transisi ini terhitung sejak 1 Juni hingga 31 Agustus 2026.
Kebijakan baru tersebut justru memperlambat keberlangsungan ekspor, sejumlah pembeli di China dilaporkan menunda pengiriman batu bara dari Indonesia.
Seperti yang dilaporkan Bloomberg News, sejumlah pembeli batu bara di China menunda pengiriman untuk bulan Juni setelah Indonesia berencana memusatkan ekspor beberapa komoditasnya, termasuk batu bara. Hal tersebut disampaikan oleh China Coal Transportation and Distribution Association (CCTD) dalam sebuah paparan pada Rabu setempat.
Aturan baru Indonesia yang mulai berlaku pada 1 Juni telah memperlambat proses transaksi perdagangan, sehingga mendorong kenaikan harga dan memperketat pasokan, menurut Ma Yanxu, analis CCTD.
Institute for Development of Economics and Finance (Indef) turut menyoroti potensi berpalingnya importir atau pembeli (buyer) komoditas–komoditas strategis Indonesia ke negara eksportir lain usai diterbitkannya peraturan ekspor satu pintu melalui PT DSI.
“Ada ketidakpastian dari munculnya DSI. Mereka (importir) berpotensi melakukan diversifikasi impor. Jadi tidak hanya mengandalkan Indonesia saja untuk mendapatkan komoditas seperti CPO, batu bara, sampai paduan besi. Mereka akan switch ke negara–negara lain,” jelas Head Center of Industry, Trade, and Investment Indef Andry Satrio Nugroho saat dihubungi Bloomberg Technoz, Rabu.
Andry menambahkan kepastian peraturan dalam kebijakan ekspor satu pintu berpengaruh besar dalam mempertahankan pembeli agar tetap melakukan transaksi impornya dengan Indonesia.
“Ekspor kita digerakkan oleh dua hal tadi, kepastian (peraturan) dan juga dinamika permintaan,” tambahnya.
Terlebih lagi, yang amat menjadi perhatian pasar, berdasarkan data terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS), China menjadi salah satu pasar ekspor utama bagi batu bara Indonesia, CPO dan paduan besi sepanjang 2026.
Deputi Bidang Metodologi dan Informasi Statistik BPS Pudji Ismartini mengatakan, negara tujuan ekspor batu bara terbesar adalah India, China, dan Jepang. Untuk ekspor CPO, tujuan utama adalah India, China, dan Pakistan.
“Kemudian untuk negara tujuan (ekspor) ferro alloy adalah China, Korea Selatan, dan India," ujar Pudji dalam konferensi pers di kantor BPS, Selasa (2/6/2026).
(fad)




























