Logo Bloomberg Technoz

“Luasnya cakupan kenaikan harga ini mengindikasikan bahwa inflasi tidak lagi semata-mata dipicu oleh faktor pangan yang bergejolak, melainkan mulai mencerminkan proses penyaluran kenaikan biaya yang lebih luas ke berbagai sektor ekonomi, sejalan dengan pelemahan nilai tukar rupiah yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir,” sebut Laporan Samuel Sekuritas.

Ini berarti masyarakat menghadapi kenaikan biaya hidup dari berbagai sisi sekaligus. Dalam ekonomi, kondisi ini disebut broad-based inflation atau inflasi yang menyebar ke seluruh sektor.

Biasanya inflasi pangan dapat mereda ketika panen membaik. Namun ketika biaya transportasi, jasa, pendidikan, dan kebutuhan sehari-hari ikut naik, inflasi menjadi lebih sulit dikendalikan.

Di saat yang sama, penyumbang inflasi periode ini adalah emas perhiasan. Emas perhiasan menyumbang 0,63 poin inflasi nasional dibanding komoditas lain.

Hal ini dapat mengindikasikan dua hal. Pertama, adanya reaksi masyarakat yang mencari aset lindung nilai di tengah pelemahan rupiah yang terjadi belakangan. Kedua, lonjakan harga emas yang terjadi selama periode ini juga terjadi, lantaran investor global juga mencari aset lindung nilai di tengah ketidakpastian geopolitik yang terjadi.

Daya Beli Lemah

Meski inflasi tercatat tinggi, dengan kenaikan inflasi inti menjadi 2,59% secara tahunan dari 2,44% pada April, tetapi daya beli masyarakat cenderung lemah.

“Kami menilai kenaikan inflasi inti lebih banyak dipicu oleh gangguan dari sisi pasokan (supply-side disruption) dibandingkan dorongan permintaan (demand-pull inflation),” ungkap Laporan Samuel Sekuritas.

Penilaian Samuel Sekuritas ini didasarkan pada kondisi pasar tenaga kerja yang masih relatif lemah, serta berbagai indikasi di lapangan yang menunjukkan konsumen semakin banyak beralih ke produk dengan harga lebih murah (down-trading) dalam aktivitas belanjanya.

Sementara itu, secara bulanan, inflasi mencapai 0,28%, lebih dari dua kali lipat dibandingkan kenaikan 0,13% pada April dan jauh di atas ekspektasi pasar sebesar 0,14%. Angka tersebut menunjukkan bahwa tekanan harga meningkat lebih cepat dari perkiraan sepanjang bulan Mei.

Dalam konteks kenaikan inflasi ini, kelompok yang paling terpukul adalah pekerja informal, buruh, petani, pekerja kelas menengah bawah, hingga pensiunan. Sebab, sumber inflasi terbesar berasal dari kebutuhan dasar.

Komoditas utama penyumbang inflasi adalah ikan segar, beras, daging ayam, minyak goreng, cabai, dan bawang merah. Komoditas ini merupakan barang yang dikonsumsi setiap hari oleh rumah tangga berpendapatan rendah.

Sehingga, meski ekonomi secara agregat tampak masih tumbuh, banyak rumah tangga akan merasa kehidupannya semakin mahal.

Pasalnya lonjakan inflasi terjadi saat nilai tukar rupiah semakin lemah. Harga pangan naik, inflasi menyebar ke berbagai sektor, biaya transportasi dan jasa ikut terkerek, dan pertumbuhan pendapatan masyarakat belum mengimbangi kenaikan biaya hidup.

Akibatnya, dalam beberapa kuartal ke depan Indonesia berpotensi mengalami erosi daya beli secara perlaahan. Dengan cara, mengurangi konsumsi, menunda pembelian barang tahan lama, memilih produk yang lebih murah, dan mengurangi pengeluaran non-esensial.

Ekspektasi Inflasi Mendatang

Menurut Bloomberg Economics, kombinasi kenaikan harga energi global dan pelemahan rupiah dapat menciptakan tekanan inflasi yang lebih persisten dalam beberapa bulan ke depan.

Jika konflik di Timur Tengah terus mengganggu pasokan energi dan harga minyak bertahan tinggi, ruang bagi BI untuk mempertahankan suku bunga saat ini akan semakin sempit.

Dalam skenario tersebut, inflasi yang saat ini masih berada dalam target berpotensi bergerak melampaui batas atas target BI, sehingga bank sentral kemungkinan perlu kembali menaikkan suku bunga untuk menjaga stabilitas harga dan menahan tekanan terhadap nilai tukar rupiah.

“Ke depan, kami memperkirakan inflasi akan menembus batas atas target BI pada Juni, dan berpotensi naik lebih tinggi lagi apabila gangguan pasokan energi dari Timur Tengah terus berlanjut,” sebut Tamara Henderson, Ekonom Bloomberg Economics.

Dia menambahkan, kondisi rupiah yang masih rentan terhadap meningkatnya aversi risiko global, kemungkinan akan mendorong kenaikan suku bunga acuan kembali pada akhir bulan ini.

Samuel Sekuritas memperkirakan inflasi tetap bertahan pada kisaran tinggi, yakni 3%-3,3% secara tahunan dalam beberapa bulan mendatang.

“Harga pangan berpotensi terus menghadapi tekanan musiman seiring munculnya ancaman fenomena El Nino, sementara kenaikan biaya transportasi dan logistik dapat mempertahankan risiko kenaikan inflasi apabila konflik Iran terus berlanjut,” sebut Laporan Samuel Sekuritas.

Dalam kondisi penuh ketidakpastian sepert sekarang ini, sepertinya mengandalkan kebijakan moneter semata tidak akan cukup.

Pemerintah perlu mempercepat langkah-langkah penguatan sisi pasokan, mulai dari menjaga ketersediaan pangan, memperbaiki efisiensi distribusi, hingga mengurangi hambatan logistik domestik yang selama ini menjadi sumber biaya tinggi.

Upaya stabilisasi harga tidak boleh hanya dilakukan ketika inflasi sudah melonjak, melainkan harus dilakukan secara preventif sebelum tekanan harga semakin meluas.

(dsp/aji)

No more pages