Logo Bloomberg Technoz

Jika diperinci, pembelian listrik dari IPP jauh lebih besar yaitu senilai Rp148,75 triliun dibandingkan dengan pembelian melalui pembangkit yang memiliki afiliasi dengan PLN sebesar Rp46,46 triliun.

Adapun, terdapat 10 besar IPP dengan pembeliaan listrik terbesar dari PLN sepanjang 2025, dengan perincian sebagai berikut: 

  1. PT Paiton Energy: Rp16,84 triliun 
  2. PT Bhumi Jati Power: Rp15,04 triliun 
  3. PT Bhimasena Power Indonesia: Rp11,31 triliun
  4. PT Jawa Power: Rp8,85 triliun
  5. PT Jawa Satu Power: Rp8,18 triliun
  6. PT Cirebon Energi Prasarana: Rp6,89 triliun 
  7. PT Huadian Bukit Asam Power: Rp6,13 triliun
  8. PT Lestari Banten Energi: Rp4,4 triliun 
  9. PT Cirebon Electric Power: Rp3,7 triliun
  10. PT General Energi Bali: Rp3,61 triliun

Kenaikan beban juga terjadi di sektor pemeliharan sebesar 13,28% dengan nilai Rp35,74 triliun dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang senilai Rp31,55 trilun.

Beban kepegawaian juga naik 17,3%, dengan nilai Rp36 triliun dibandingkan dengan periode sama tahun sebelumnya senilai Rp30,7 triliun.

Beban sewa juga mengalami kenaikan sebesar 8,85% dengan nilai Rp2,83 triliun, dibandingkan dengan periode sama tahun sebelumnya senilai Rp2,6 triliun.

Sepanjang Tahun Buku 2025, PLN mencatatkan total liabilitas (utang) sebesar Rp773,2 triliun, yang terdiri dari kewajiban jangka pendek sebesar Rp204 triliun dan kewajiban jangka panjang sebesar Rp569,17 triliun.

Angka liabilitas tersebut mengalami peningkatan 9,98% dari posisi akhir Desember 2024 yang tercatat sebesar Rp703,03 triliun.

Di sisi lain, komponen modal bersih PLN yang tecermin dari nilai ekuitas mengalami koreksi hingga menyentuh angka Rp1.064 triliun, atau menurun tipis sebesar 0,47% dibandingkan dengan posisi akhir tahun sebelumnya yang sebesar Rp1.069 triliun.

Secara akumulatif, padahal, PLN tercatat mengantongi kenaikan pendapatan usaha menjadi Rp582,68 triliun.

Hal ini ditopang oleh penjualan tenaga listrik senilai Rp367,08 triliun, serta realisasi subsidi listrik dan pendapatan kompensasi dari Pemerintah yang masing-masing mencapai Rp87,46 triliun dan Rp112,73 triliun.

Namun, masifnya laju beban usaha dan hantaman sentimen kurs membuat laba bersih anjlok 65,8% hingga tersisa Rp7,26 triliun jika dibandingkan dari laba bersih 2024 yang mencapai Rp21,23 triliun. Alhasil, laba per saham dasar merosot ke level Rp46.599 per lembar saham.

(smr/wdh)

No more pages