Logo Bloomberg Technoz

Beban kepegawaian juga naik 17,3%, dengan nilai Rp36 triliun dibanding dengan periode 2024 senilai Rp30,7 triliun.

Beban sewa juga mengalami kenaikan sebesar 8,85% dengan nilai Rp2,83 triliun, dibandingkan dengan periode sama tahun sebelumnya senilai Rp2,6 triliun.

Penyusutan aset tetap sebesar 7,69% dengan nilai Rp50,26 triliun dari sebelumnya Rp46,67 triliun. Lalu, penyusutan aset hak guna sebesar Rp3,1 triliun dan sektor lain-lain sebesar Rp11,68 triliun juga turut menambah beban PLN sepanjang 2025.

Secara keseluruhan, PLN membukukan kenaikan beban usaha sepanjang 2025 sebesar 10,04% dengan nilai Rp533,45 triliun, dibandingkan dengan periode sama tahun sebelumnya dengan nilai Rp484,75 triliun.

Selain beban usaha, kinerja lini bawah (bottom line) perseroan juga terbebani oleh pos non-operasional. Melemahnya nilai tukar Rupiah membuat PLN menanggung lonjakan kerugian selisih kurs bersih hingga 83,79% menjadi Rp12,46 triliun, dari posisi Rp6,78 triliun pada 2024.

Sebelumnya, Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo menjelaskan penurunan laba bersih perusahaan sepanjang 2025 memang tak lepas dari pengaruh selisih kurs tersebut.

Meski turun dari 2024, dia menilai laba PLN 2025 masih menjadi catatan positif karena dicapai di tengah volatilitas nilai tukar dan ketidakpastian ekonomi global.

"Capaian tersebut diraih meskipun perseroan menghadapi tekanan rugi selisih kurs sebesar Rp12,46 triliun akibat volatilitas nilai tukar global," tegas Darmawan lewat keterangan tertulis di Jakarta, Kamis (21/5/2026).

Adapun, penurunan laba bersih ini terjadi di tengah peningkatan total pendapatan perusahaan pada 2025, dari Rp545,38 triliun menjadi sekitar Rp582,68 triliun atau naik 6,84% secara year on year (yoy).

Pendapatan terbesar perusahaan pelat merah tersebut berasal dari penjualan tenaga listrik yang mencapai Rp367,08 triliun atau lebih besar dari tahun sebelumnya yang hanya Rp353,17 triliun.

Kemudian, realisasi subsidi listrik dan pendapatan kompensasi sepanjang 2025 tercatat di angka Rp200,19 triliun.

Adapun realisasi penjualan tenaga listrik oleh PLN 2025 tercatat di angka 317,69 terawatt hour (TWh), atau tumbuh 3,75% dari tahun sebelumnya yang hanya 306,21 TWh. Dari sisi pertumbuhan daya tersambung pelanggan, berada di angka 192.621 megavolt ampere (MVA) pada 2025.

Jumlah pelanggan PLN juga turut bertambah sekitar 3,3 juta menjadi 96,2 juta pelanggan pada 2025.

Pertumbuhan tersebut mendorong pendapatan dari penyambungan pelanggan mencapai Rp2,24 triliun, naik 28,4% dari tahun sebelumnya.

(smr/wdh)

No more pages