Logo Bloomberg Technoz

Inflasi inti juga diperkirakan naik dari 2,44% secara tahunan pada April menjadi 2,50% pada Mei. Kenaikan ini terutama dipengaruhi oleh inflasi pangan inti, khususnya minyak goreng, serta kenaikan biaya input non pangan akibat pelemahan rupiah. 

Namun, penurunan harga emas diperkirakan menjadi faktor penahan sehingga tekanan inflasi inti tidak naik terlalu tajam. 

“Dengan kata lain, inflasi Mei masih terkendali dalam sasaran BI, tetapi kualitas tekanannya perlu diperhatikan karena mulai berasal dari biaya produksi dan impor, bukan sekadar permintaan musiman,” tambahnya.

Ke depan, Joshua menambahkan risiko inflasi tetap condong ke atas. Dari sisi domestik, sikap fiskal yang ekspansif dapat mendorong uang beredar dan permintaan, sementara program Makan Bergizi Gratis (MBG) berpotensi meningkatkan permintaan pangan jika tidak diimbangi kenaikan produksi dan perbaikan rantai pasok. 

Risiko cuaca seperti potensi El Niño besar juga perlu dipantau karena dapat mengganggu produksi pertanian dan menaikkan harga pangan. 

Dari sisi eksternal, ketegangan Timur Tengah (Timur Tengah) dapat menjaga harga minyak tetap tinggi, menekan rupiah, dan meningkatkan risiko inflasi impor. 

“Namun, tekanan inflasi tersebut masih memiliki penahan, yaitu output gap ekonomi yang masih negatif. Ini berarti permintaan agregat belum terlalu kuat sehingga peluang inflasi karena permintaan yang berlebihan masih relatif terbatas,” ungkapnya. 

Dengan asumsi harga Bahan Bakar Minyak (BBM) subsidi tetap ditahan, kami memperkirakan inflasi umum akhir 2026 berada sekitar 2,72%. 

Akan tetapi, jika risiko Rupiah, minyak, pangan, dan cuaca memburuk bersamaan, inflasi bisa naik lebih tinggi dan membuka ruang bagi Bank Indonesia (BI) untuk mempertimbangkan kenaikan suku bunga tambahan. 

“Meski begitu, skenario dasar kami masih melihat BI Rate bertahan di 5,25% karena kenaikan 50 basis poin sebelumnya sudah bersifat antisipatif untuk menjaga stabilitas rupiah dan inflasi,” katanya. 

Adapun, surplus neraca dagang April 2026 kemungkinan tetap positif tetapi menyempit ke sekitar US$1,43 miliar karena impor naik lebih cepat dibanding ekspor. Sementara itu, inflasi Mei diperkirakan tidak deflasi, melainkan naik tipis secara bulanan ke 0,14% dan meningkat secara tahunan ke 2,94%. 

“Oleh sebab itu, pemerintah perlu menjaga pasokan pangan dan energi, memastikan impor produktif tidak berubah menjadi tekanan berlebihan terhadap transaksi berjalan, serta menjaga stabilitas rupiah agar kenaikan biaya impor tidak semakin kuat diteruskan ke harga konsumen,” tutupnya.

(smr/ell)

No more pages