Logo Bloomberg Technoz

Bloomberg Economics memperingatkan inflasi Indonesia berpotensi menembus batas atas target Bank Indonesia sebesar 3,5% mulai Juni apabila guncangan harga minyak terus berlanjut.

Pelemahan rupiah terhadap dolar AS juga meningkatkan biaya impor, meskipun subsidi pemerintah membantu meredam sebagian dampaknya.

Indonesia pekan ini juga akan mengumumkan data ekspor-impor, serta neraca perdagangan. Konsesus yang dihimpun Bloomberg memperkirakan ekspor Indonesia sebesar 9,10%, sedangkan import 2,9%.

Sementara di kawasan, pasar valuta asing Asia yang tidak libur masih terlihat penuh tekanan. Won Korea Selatan melemah 0,42%, yen Jepang 0,11%, dan dolar Singapura terpeleset 0,06%. 

Meski mata uangnya sedikit tertekan, ekspor Korea Selatan diperkirakan melonjak 55,5% secara tahunan pada Mei, lebih tinggi dibanding kenaikan 48% pada April. Permintaan terhadap chip AI menjadi pendorong utama.

Data awal menunjukkan pengiriman chip semikonduktor melonjak lebih dari 200% dalam 20 hari pertama Mei.Surplus perdagangan diperkirakan melebar menjadi US$26,4 miliar dari US$23,8 miliar pada April.

Sebaliknya, posisi Indonesia tak seperti Korea Selatan yang mendapatkan bantalan eksternal dari lonjakan permintaan global terhadap semikonduktor dan produk berteknologi tinggi. Indonesia masih sangat bergantung pada ekspor komoditas yang rentan terhadap fluktuasi harga global. 

Kenaikan harga minyak dunia memang bisa menguntungkan sebagian komoditas energi, tapi Indonesia juga tercatat sebagai importir minyak. Sehingga, dampaknya justru lebih banyak dari sisi inflasi, defisit transaksi berjalan. 

Pekan ini, pasar akan mencermati apakah surplus perdagangan yang selama ini jadi penopang rupiah masih cukup kuat untuk mengimbangi meningkatnya kebutuhan devisa akibat mahalnya impor energi. 

Jika data inflasi, perdagangan, dan neraca pembayaran menunjukkan ketahanan yang memadai, tekanan terhadap rupiah mungkin bisa berpeluang mereda.

Namun, jika bantalan eksternal itu makin menipis seperti data kuartal I-2026 yang telah rilis, rupiah berpotensi melanjutkan pelemahan hingga mendekati atau bahkan menembus level psikologis baru Rp18.000/US$. 

Sebagai catatan, Bank Indonesia (BI) mengumumkan Neraca Pembayaran Indonesia kuartal I-2026 yang tercatat defisit US$9,15 miliar. Jauh lebih dalam daripada defisit kuartal sebelumnya US$6,07 miliar.

Transaksi berjalan juga mencatat defisit sebesar US$4 miliar atau 1,1% terhadap Produk Domestik Bruto. Angka ini memburuk tajam dibandingkan kuartal sebelumnya yang masih surplus US$2,5 miliar. Artinya, dalam satu kuartal saja terjadi perubahan sekitar US$6,5 miliar. 

(dsp)

No more pages