Sebelumnya, Direktur Manajemen Pembangkitan PLN, Rizal Calvary mengatakan target PLTS 17 GW tahap pertama dibidik selesai secepatnya. Meski begitu, Rizal menambahkan PLN menargetkan tahap pertama ini bisa selesai pada tahun 2028 mendatang.
“Tahun 2028, tapi kalau bisa secepatnya,” ujar Rizal saat ditemui dalam agenda Himpunan Pengusaha Muda Indonesia di Jakarta, Rabu (20/5/2026).
Dia juga menyakini bahwa 100% listrik yang berasal dari PLTS 100 GW ini akan diserap oleh PLN dengan harga US$6 per kWh.
“Harganya kemarin 6 dolar per kWh, dan mereka [produsen PLTS] udah oke,” katanya.
Dalam kesempatan yang sama, Staf Ahli Menteri ESDM Bidang Perencanaan Strategis Jisman P Hutajulu mengungkap bahwa jika dibandingkan dengan pembangkit lain, PLTS dinilai tidak memiliki teknologi yang terlalu kompleks atau rumit, sehingga target 17 GW tahap pertama dirasa bisa tercapai.
“Rasanya sih saya yakin, kami juga membuka peluang sebesar-besarnya pada pengusaha muda Indonesia untuk berinvestasi [dalam PLTS]," katanya.
Adapun dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034, PLN ditargetkan membangun sistem penyimpanan energi sebesar 10,3 GW, yang terdiri dari pembangkit listrik tenaga air (PLTA) pumped storage sebesar 6 GW dan BESS sebesar 4,3 GW.
Kedua jenis penyimpanan ini ditargetkan dapat mendukung integrasi listrik melalui pengembangan energi baru terbarukan (EBT) sebesar 52,9 GW dalam periode 2025-2034.
Dalam RUPTL terbaru, PLTS ditarget menjadi kontributor terbesar dengan kapasitas 17,1 GW, disusul oleh PLTA sebesar 11,7 GW. Selain itu, pengembangan juga mencakup energi angin sebesar 7,2 GW, panas bumi 5,2 GW, bioenergi 0,9 GW, serta energi nuklir sebesar 0,5 GW.
PLTS menjadi andalan di wilayah dengan intensitas radiasi matahari tinggi, seperti Jawa, Madura, dan Bali (Jamali), serta kawasan timur Indonesia. Di wilayah Jamali, total kapasitas EBT mencapai 19,6 GW, yang didominasi PLTS sebesar 10.932 MW. Diikuti PLTB 5.377 MW, PLTP 2.503 MW, PLTA/M 432 MW, dan bioenergi 399 MW.
Sementara itu, wilayah Papua, Maluku, dan Nusa Tenggara mendapat alokasi kapasitas EBT sebesar 2,3 GW. Meski skalanya lebih kecil, proyek ini dinilai strategis untuk meningkatkan rasio elektrifikasi di daerah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T). Kapasitas yang direncanakan terdiri atas PLTS 1.470 MW, PLTP 332 MW, PLTA/M 179 MW, bioenergi 141 MW, PLTB 140 MW, serta PLTAL 40 MW.
(smr/ros)




























