Logo Bloomberg Technoz

Didorong keberhasilan RevMed, banyak perusahaan kini berlomba mengembangkan obat serupa yang dijuluki “molecular glue,” yang dapat digunakan untuk mengobati berbagai penyakit. Investor dan perusahaan farmasi bermodal besar juga memburu teknologi tersebut, menjadikannya salah satu sektor paling panas dalam aktivitas kesepakatan industri.

Bukan hal yang aneh jika obat baru yang menjanjikan memicu lonjakan harga saham dan demam aksi korporasi. Namun molecular glue merupakan ilmu yang sangat rumit, dan startup yang mengejar teknologi serupa dengan RevMed sebagian besar masih berada pada tahap awal pengujian. Obat-obatan mereka kemungkinan baru siap dalam beberapa tahun lagi — jika benar-benar berhasil.

Meski begitu, perusahaan farmasi besar seperti Novartis AG, Roche Holding AG, dan Eli Lilly & Co. tetap menandatangani perjanjian riset dengan pengembang molecular glue yang nilainya bisa mencapai miliaran dolar dalam pembayaran berbasis pencapaian target.

Ledakan minat tersebut sangat menguntungkan Monte Rosa Therapeutics Inc.. Dalam tiga tahun terakhir, perusahaan bioteknologi berbasis di Boston itu menandatangani tiga kesepakatan yang berpotensi bernilai lebih dari US$10 miliar untuk mengembangkan obat molecular glue bersama Novartis dan Roche.

Perusahaan yang diperdagangkan dengan kode saham GLUE itu telah melihat sahamnya melonjak hampir 400% selama setahun terakhir. Monte Rosa juga bersiap memulai uji tahap menengah untuk sejumlah obat sebelum akhir tahun ini.

“Kenaikan harga saham tersebut memang layak berdasarkan apa yang telah kami lihat sejauh ini,” kata Robert Driscoll, analis di Wedbush yang meliput Monte Rosa dan RevMed, yang sahamnya telah melonjak empat kali lipat dalam 12 bulan terakhir. Menurutnya, kenaikan tersebut “didorong keberhasilan obat-obatan mereka, bukan sekadar euforia terhadap teknologi glue secara keseluruhan.”

Ilmu di Balik Molecular Glue

Molecular glue bekerja dengan cara yang secara mendasar berbeda dibandingkan obat oral lainnya. Sebagian besar pil — seperti Prozac untuk depresi atau Lipitor untuk kolesterol — merupakan bahan kimia kecil yang masuk ke dalam “kantong” pada protein yang jauh lebih besar untuk menghambat fungsinya. Namun banyak protein memiliki sedikit kantong yang jelas, termasuk protein utama penyebab kanker.

Faktanya, sekitar 80% dari seluruh protein dalam tubuh dianggap ilmuwan sebagai “undruggable,” yang berarti tidak dapat ditargetkan dengan teknologi obat tradisional.

Daraxonrasib milik Revolution Medicines Inc. dengan cerdik mengatasi masalah ini dengan bertindak seperti perekat molekuler. Setelah masuk ke dalam tubuh, obat tersebut menempel pada protein sehat di satu sisi, lalu menarik protein jahat untuk melekat di sisi lainnya. Protein sehat itu membantu menghambat protein jahat dan mematikan sinyalnya.

Beberapa obat bergaya glue menargetkan protein jahat untuk dihancurkan setelah menempel padanya. Obat jenis ini dikenal sebagai degrader. Konsep tersebut menjanjikan, meskipun menghancurkan protein jahat belum tentu lebih efektif dibanding hanya memblokirnya.

Ahli kimia Harvard, Stuart Schreiber, dianggap sebagai pencetus istilah “molecular glue” pada awal 1990-an untuk menjelaskan cara kerja obat transplantasi organ tertentu. Schreiber kemudian ikut mendirikan Magnet Biomedicine, yang memiliki kerja sama dengan Eli Lilly & Co. untuk mengembangkan obat glue bagi kanker.

Setiap glue atau degrader baru harus dirancang dari nol, “seperti karya seni yang unik,” kata Jacob Van Naarden, kepala unit kanker dan pengembangan bisnis Lilly. Dibutuhkan waktu bertahun-tahun untuk mengutak-atik bahan kimia guna menciptakan obat yang cukup kuat untuk dimasukkan ke dalam pil kecil sekaligus mampu bertahan melewati saluran pencernaan tanpa rusak.

Para Pesaing Mulai Bermunculan

Sejumlah perusahaan kini mengejar langkah RevMed dalam pengobatan kanker pankreas meski peluang keberhasilannya kecil. Erasca Inc. yang berbasis di San Diego masih berada pada tahap awal pengujian obat yang diklaim lebih kuat dibanding daraxonrasib. Sementara itu, perusahaan obat Jepang Astellas Pharma Inc. telah memulai uji tahap akhir untuk degrader yang dapat membantu sebagian pasien kanker pankreas dan paru-paru.

“Minat terhadap teknologi ini sangat tinggi,” kata Craig Crews, profesor kimia Universitas Yale dan pendiri ilmiah Halda Therapeutics, yang memelopori teknologi terkait bernama “hold and kill.”

Johnson & Johnson menghabiskan US$3,05 miliar untuk mengakuisisi Halda tahun lalu dalam salah satu taruhan terbesar di sektor ini sejauh ini. Obat utama perusahaan tersebut adalah pil sekali sehari untuk kanker prostat stadium lanjut yang “merekatkan” reseptor hormon pria yang terdapat pada kanker prostat dengan protein lain yang penting bagi kelangsungan hidup sel, sehingga menghambat fungsinya dan menyebabkan sel kanker mati.

Recent Deals in Molecular Glue and Related Technology. (Sumber: Company statements)

Dalam sebuah wawancara, dua eksekutif Johnson & Johnson mengatakan mereka telah mengikuti teknologi Halda Therapeutics selama bertahun-tahun dan terkesan oleh data laboratorium yang menunjukkan teknologi tersebut dapat bekerja secara luas terhadap tumor dengan mutasi yang sulit diobati.

“Setiap hari daftar kemampuan teknologi ini terus bertambah panjang,” kata Yusri Elsayed, kepala global bidang terapi onkologi J&J. “Ada peluang untuk menggunakannya pada hampir semua jenis tumor.”

Molecular glue dan degrader juga sedang dikembangkan sebagai alternatif bagi obat suntik untuk mengobati gangguan autoimun dan penyakit kulit. Saham Kymera Therapeutics Inc. melonjak lebih dari 180% dalam setahun terakhir berkat hasil awal uji coba yang menjanjikan. Perusahaan yang berbasis di Watertown, Massachusetts itu sedang mengembangkan pil sekali sehari yang diharapkan suatu hari dapat bersaing dengan Dupixent milik Sanofi dan Regeneron Pharmaceuticals Inc., salah satu obat terlaris di dunia.

“Teknologi ini memungkinkan Anda menargetkan hal-hal yang sebelumnya hampir mustahil dilakukan dengan pil,” kata Nello Mainolfi, pendiri dan chief executive officer Kymera.

Namun tidak semua obat baru ini menjadi terobosan besar dibanding pengobatan yang sudah ada. Pfizer Inc. sempat sepakat mengembangkan degrader untuk kanker payudara bersama Arvinas Inc., perusahaan yang berlokasi tak jauh dari kantor pusat Halda di New Haven, Connecticut. Namun hasil studi akhirnya mengecewakan investor, dan penggunaan obat tersebut akhirnya terbatas hanya untuk sebagian pasien. Kedua perusahaan baru-baru ini juga menjual hak komersial obat itu kepada perusahaan ketiga.

Calon Obat Superlaris Masa Depan

Dengan sedikitnya pilihan pengobatan yang efektif untuk kanker pankreas, para analis memperkirakan daraxonrasib milik Revolution Medicines Inc. akan menjadi obat dengan penjualan sangat besar bagi perusahaan yang berbasis di Redwood City, California tersebut.

Obat itu telah menarik perhatian media secara luas, termasuk wawancara dengan mantan senator AS Ben Sasse, yang menyebutnya sebagai “obat ajaib” setelah mengikuti uji klinisnya. Begitu banyak orang menginginkan obat tersebut sehingga Badan Pengawas Obat dan Makanan AS (FDA) menyetujui program akses khusus yang diperluas bagi pasien kritis yang tidak memenuhi syarat untuk mengikuti uji coba.

Prospek daraxonrasib dan spekulasi mengenai potensi akuisisi telah mendorong kapitalisasi pasar RevMed mendekati US$33 miliar. Angka itu tergolong sangat tinggi untuk perusahaan obat yang belum memiliki satu pun obat yang disetujui.

Namun menurut RevMed, potensi keuntungan tersebut sepadan setelah bertahun-tahun mengutak-atik kimia untuk mewujudkan visi Gregory Verdine. Ketika RevMed mengakuisisi perusahaan Verdine, perusahaan itu memiliki prototipe molecular glue yang dapat memblokir protein penyebab kanker pada tikus. Namun kekuatannya belum cukup untuk dijadikan obat, sehingga RevMed berupaya menyempurnakannya.

“Kami menempatkan setiap karyawan yang kami miliki untuk mengerjakannya karena kami merasa teknologi ini harus berhasil,” kata Mark Goldsmith, chief executive officer RevMed.

Pada akhirnya, salah satu tim kimia RevMed menemukan cara menggunakan konsep glue untuk memblokir semua bentuk protein jahat tersebut. Banyak peneliti sebelumnya menganggap hal itu mustahil dilakukan tanpa menimbulkan terlalu banyak efek samping, tetapi sejauh ini efek sampingnya ternyata masih dapat ditangani.

Perusahaan kini bersiap mengajukan persetujuan di AS dalam waktu dekat, dan FDA telah berjanji memberikan peninjauan super cepat terhadap obat tersebut. Berdasarkan rata-rata estimasi yang dihimpun Bloomberg, penjualan obat itu diproyeksikan mencapai US$7 miliar per tahun pada 2032.

No more pages