Sementara dari sisi permintaan dolar AS, kata Denny, BI juga telah menetapkan threshold tunai beli valas terhadap rupiah tanpa underlying menjadi US$25.000 per pelaku per bulan yang akan berlaku mulai Juni 2026.
“Bank Indonesia terus memperkuat koordinasi dengan otoritas terkait untuk mendukung stabilitas pasar keuangan dan nilai tukar, antara lain melalui penguatan pengawasan terhadap bank dan korporasi dengan aktivitas pembelian dolar AS yang tinggi,” jelas dia.
Dia menegaskan, BI akan terus mencermati perkembangan pasar keuangan global dan domestik serta senantiasa hadir di pasar dengan mengambil langkah-langkah yang diperlukan secara konsisten dan terukur guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan mendukung ketahanan eksternal perekonomian Indonesia.
Rupiah menutup perdagangan hari ini, Jumat (29/5/2026), dengan pelemahan 0,48% ke posisi Rp17.874/US$. Ini menjadi posisi rupiah yang terlemah sepanjang sejarah.
Hari ini juga menandai perdagangan terakhir pada Mei. Sepanjang bulan ini, mata uang Ibu Pertiwi membukukan depresiasi 2,91%. Rupiah pun sah melemah tiga bulan beruntun.
Pelemahan rupiah terjadi kala sentimen investor global terkait konflik AS dengan Iran sedikit mereda. Kesepakatan sementara yakni gencatan senjata selama 60 hari membawa narasi optimisme bahwa perang yang mengganggu Selat Hormuz, setidaknya akan berakhir.
Pergerakan mata uang Asia pun menyambut positif sinyal ini, meski tidak semua. Baht Thailand, ringgit Malaysia, rupee India, dolar Taiwan, yuan China dan offshore, serta peso Filipina tercatat berhasil rebound pada sesi perdagangan hari ini.
Sebaliknya, won Korea Selatan, rupiah, serta dolar Singapura tercatat melemah paling dalam.
Sepanjang Mei, rupiah jadi mata uang terlemah di Benua Kuning. Di atas rupiah ada won yang terdepresiasi 2,1% dan yen Jepang yang melemah 1,67%.
Tekanan terjadi pada rupiah sepanjang Mei ini telah menggerus rupiah sebanyak 2,91%, dan memposisikannya sebagai mata uang terlemah bulan ini. Setelah rupiah menyusul won Korea Selatan yang melemah 2,1%, lalu yen Jepang 1,67%.
Jika ditarik lagi ke belakang, maka pelemahan rupiah sejak awal kuartal II-2026 mencapai 4,92%.
(mfd/ell)





























