Logo Bloomberg Technoz

Pakar: Riset Palsu untuk Travel Grant Mencoreng Dunia Akademik

Dinda Decembria
29 May 2026 13:20

Ilustrasi penelitian Biomedical. (Foto By DC_Studio via Envato)
Ilustrasi penelitian Biomedical. (Foto By DC_Studio via Envato)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Epidemiolog Dicky Budiman menyoroti tiga masalah besar di balik kasus dugaan riset palsu yang dilakukan demi memperoleh travel grant hingga pengakuan akademik internasional. Menurutnya, fenomena ini tidak hanya mencoreng dunia akademik, tetapi juga mengancam integritas budaya ilmiah di Indonesia.

Dicky menjelaskan masalah pertama adalah komersialisasi dan industrialisasi prestise akademik. Ia menilai publikasi ilmiah, konferensi internasional, sertifikat pembicara, hingga travel grant kini kerap dipandang sebagai simbol status sosial semata, bukan lagi bagian dari proses ilmiah yang utuh. Kondisi tersebut memicu munculnya praktik paper mill, ghost writing, jurnal predator, hingga manipulasi.

“AI sebenarnya netral. Yang bermasalah itu manusianya. AI boleh dipakai untuk membantu grammar, coding statistik, literature mapping, atau visualisasi data. Tapi menjadi scientific fraud (kecurangan) ketika dipakai membuat data palsu, responden fiktif, atau penelitian yang tidak pernah dilakukan,” kata Dicky dalam keterangannya, Jumat (29/5).


Masalah kedua, lanjut dia, adalah lemahnya literasi metodologi penelitian. Banyak orang dinilai mampu menghasilkan tulisan yang tampak ilmiah, tetapi tidak memahami epistemologi, validitas, bias, hingga etika penelitian. Akibatnya, teknologi kecerdasan buatan dimanfaatkan untuk memproduksi paper yang terlihat meyakinkan hanya dalam hitungan menit.

“Penelitian itu bukan sekadar tulisan. Ada proses, data, audit trail, validasi, dan integritas di dalamnya,” ujarnya.