Logo Bloomberg Technoz

Tekanan terjadi pada won Korea Selatan setelah adanya penurunan tak terduga pada produksi industri periode April. Kondisi ini menunjukkan Korea Selatan menghadapi gangguan rantai pasok dan kenaikan biaya energi akibat perang AS-Iran.  

Pergerakan mata uang kawasan. (Bloomberg)

Meski begitu, beberapa analis menilai peningkatan produksi semikonduktor membantu meredam dampak negatif dari melemahnya industri yang menggunakan energi secara intensif. Hal ini pun semakin menegaskan peran sektor chip sebagai mesin pertumbuhan utama perekonomian Korea Selatan. 

Sementara itu, apresiasi ringgit terjadi setelah pemerintah Malaysia mengabarkan tengah menjalankan strategi konsolidasi fiskal dengan menurunkan defisit secara bertahap menuju level 3% dari Produk Domestik Bruto (PDB), kemudian menjaganya tetap berada di kisaran tersebut dalam jangka panjang. 

Langkah ini diperkirakan mulai menurunkan rasio utang pemerintah terhadap PDB sejak tahun ini dan menempatkan posisi fiskal negara pada jalur yang lebih berkelanjutan. 

Sebaliknya, kebijakan Indonesia yang belum banyak berubah, menempatkan posisi rupiah pada tepi jurang. Di pasar luar negeri, rupiah hampir menyentuh Rp18.000/US$ pada sesi perdagangan kemarin siang waktu Indonesia. Sentimen terkait konsistensi kebijakan memburuk dan menjadikan rupiah tertekan. 

Selain itu, kebijakan pemerintah menjaga transmisi kenaikan minyak dunia agar tidak merembet ke dalam inflasi dalam bentuk kenaikan harga bahan bakar minyak menjadikan rupiah semakin tergerus. 

Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Fakhrul Fulvian memandang rupiah saat ini menjadi titik penyesuaian utama dari berbagai tekanan yang seharusnya tersebar ke banyak sektor ekonomi lain. 

“Rupiah saat ini sedang berada dalam fase overshooting, di mana pelemahannya sudah bergerak lebih dalam dibanding yang dijustifikasi oleh fundamental jangka panjang Indonesia,” kata Fakhrul dalam keterangan tertulis.

Dia menjelaskan bahwa dalam kondisi normal ketika harga energi global naik maka tekanan seharusnya tersebar ke inflasi, fiskal, domestik, dan sebagian di nilai tukar. 

Di sisi lain, struktur ekonomi domestik juga turut membebani laju rupiah. Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, menyebut struktur ekonomi tiap negara memang sangat menentukan perilaku mata uangnya. Hal ini terlihat pada ringgit Malaysia dan dolar Singapura, yang cenderung lebih stabil. 

Josua menyebut, stabilitas ringgit Malaysia dimungkinkan terjadi lantaran negara tetangga ini terbantu ketika harga minyak dan komoditas naik karena memiliki ekspor minyak, gas, dan CPO yang besar, sehingga ringgit dapat memperoleh dukungan dari neraca perdagangan.

Sementara, Singapura memiliki kerangka kebijakan nilai tukar yang sangat kredibel, pasar keuangan dalam, dan posisi sebagai pusat keuangan, sehingga dolar Singapura cenderung lebih stabil. Di sisi lain, Thailand lebih sensitif pada energi, tetapi pariwisata memberikan pasokan devisa yang cukup besar.

Di tengah tekanan fundamental yang masih kuat, pergerakan rupiah hari ini sepertinya masih akan bergerak volatil dengan kecenderungan melemah. Rupiah kemungkinan masih akan diuji pada rentang Rp17.780/US$ hingga Rp17.850/US$, sampai muncul katalis yang cukup kuat untuk membalikkan sentimen pasar. 

Analisis Teknikal

Analisis Teknikal Rupiah Jumat 29 Mei 2026 (Sumber: Bloomberg)

Secara teknikal, rupiah masih berisiko melemah hari ini. Target pelemahan menuju level Rp17.800/US$ yang merupakan support pertama dengan target pelemahan kedua akan tertahan di Rp17.850/US$.

Apabila kembali jebol kedua support tersebut dengan volume yang besar, maka rupiah kemungkinan melanjutkan depresiasi menuju Rp18.000/US$ sebagai support terkuatnya.

Namun jika rupiah menguat hari ini, maka resistance yang menarik dicermati ada di level Rp17.700-17.650/US$.

(riset/aji)

No more pages