Musalem mengingatkan bahwa setelah dikurangi inflasi, suku bunga acuan The Fed saat ini sebenarnya masih berada di bawah level netral—sebuah tingkat ideal yang tidak memperlambat maupun mendorong perekonomian. Ia juga menyoroti bahwa pasar tenaga kerja masih stabil, sementara inflasi berada "jauh di atas" target 2% yang ditetapkan The Fed, dan ekspektasi inflasi jangka panjang mulai "bergerak merangkak naik."
Data terbaru yang dirilis pada hari Kamis kemarin semakin memperkuat kecemasan tersebut. Biro Analisis Ekonomi AS melaporkan bahwa indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (PCE)—yang menjadi indikator inflasi acuan favorit The Fed—melonjak 3,8% dalam 12 bulan terakhir hingga April.
Melihat kondisi ini, para investor lewat kontrak berjangka bertaruh bahwa peluang The Fed untuk menaikkan suku bunga pada akhir tahun nanti kini sudah menembus angka 50%. Pertemuan kebijakan The Fed berikutnya dijadwalkan berlangsung pada 17-18 Juni mendatang, yang sekaligus menjadi debut perdana bagi gubernur baru The Fed, Kevin Warsh.
Warsh sebelumnya menyatakan AI berpotensi memicu lonjakan produktivitas yang memungkinkan pertumbuhan ekonomi terjadi tanpa memicu inflasi, sehingga suku bunga bisa lebih rendah.
Namun, gubernur The Fed St. Louis itu mengatakan meski dirinya merupakan pengguna aktif AI dan optimistis terhadap potensinya bagi perekonomian, antusiasme terhadap teknologi tersebut saat ini justru meningkatkan permintaan listrik dan cip, serta mendorong kenaikan harga saham sejumlah perusahaan AI. Kondisi itu dapat memaksa bank sentral menaikkan suku bunga apabila belum ada bukti nyata bahwa peningkatan produktivitas benar-benar membantu menurunkan inflasi.
“Data menunjukkan probabilitas bahwa AS saat ini berada dalam periode pertumbuhan produktivitas tinggi masih jauh di bawah 50 persen,” kata Musalem. “Saya percaya keputusan kebijakan moneter harus didasarkan pada bukti yang lebih kuat dari itu.”
Saat sesi tanya jawab usai pidato, Musalem ditanya mengenai kondisi yang dapat membuatnya mendukung kenaikan suku bunga. Ia mengatakan risiko kini lebih condong ke arah inflasi dibanding ketenagakerjaan dan dirinya akan khawatir jika tekanan harga terus bertahan.
“Saya pikir ada skenario di mana ekonomi mungkin membutuhkan kenaikan suku bunga,” kata Musalem. “Jika kita tidak melihat disinflasi dalam satu hingga dua kuartal ke depan, itu akan menjadi perhatian bagi saya. Jika saya melihat ekspektasi inflasi terus naik atau tetap tinggi, itu juga akan menjadi perhatian.”
Berbicara di Bloomberg Television setelah pidatonya, Musalem mengatakan dirinya sependapat dengan para pejabat yang berbeda pendapat dan ingin The Fed menghapus bias pelonggaran dari pernyataan kebijakan pada April lalu. Ia juga menilai bank sentral perlu terbuka terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga dalam situasi ekonomi saat ini.
“Mandat kami adalah stabilitas harga dan lapangan kerja maksimum, dan saat ini inflasi masih berada di atas target,” ujar Musalem dalam wawancara dengan Stephanie Flanders dari Bloomberg. “Jadi kemungkinan, atau probabilitas, bahwa kami mungkin mempertimbangkan kenaikan suku bunga di masa depan saya rasa harus lebih besar dari nol.”
Saat ditanya mengenai kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS dalam beberapa pekan terakhir, Musalem memperkirakan sekitar tiga perempat kenaikan tersebut disebabkan oleh meningkatnya ekspektasi terhadap tingkat suku bunga netral The Fed. Sementara seperempat sisanya berasal dari apa yang disebut term premium, yang dinilai memiliki dampak lebih langsung terhadap kondisi keuangan.
(bbn)




























