“Biaya energi yang lebih tinggi akibat perang Iran dapat menekan kepercayaan konsumen dan mengancam belanja barang bernilai besar seperti mobil,” kata analis Bloomberg Intelligence, Gillian Davis, dalam catatan pada Selasa.
Meski EV terjangkau mencatat penjualan solid, semakin banyak indikasi bahwa mobil listrik premium masih sulit diminati pasar. Saham Ferrari NV turun pada Selasa setelah mobil super listrik pertamanya, Luce, seharga €550.000 atau sekitar Rp11,4 miliar (dengan asumsi 1 euro sama dengan Rp20.800), gagal memuaskan kritikus dan investor.
Pengiriman mobil hybrid di kawasan tersebut juga meningkat bulan lalu, sementara penjualan kendaraan berbahan bakar bensin dan diesel melemah, menandakan pergeseran struktural pasar menuju kendaraan berbasis baterai terus berlanjut.
Tesla Inc. melanjutkan pemulihan di Eropa setelah periode sulit sepanjang 2025, dengan penjualan di kawasan itu melonjak 47% pada April. Volkswagen AG, Stellantis NV, Mercedes-Benz Group AG, dan BMW AG juga mencatatkan kenaikan pengiriman.
Merek China terus memperluas pangsa pasar di Eropa sebagai penopang di tengah perang harga yang brutal di pasar domestik mereka. Geely dan BYD menjadi salah satu merek China dengan penjualan tertinggi, sementara Chery Automobile Co. mencatat lonjakan 322%. SUV Jaecoo miliknya terbukti semakin diminati konsumen Inggris.
(bbn)



























