Di Eropa, inflasi di negara-negara utama seperti Jerman, Prancis, Italia, dan Spanyol diperkirakan tetap tinggi akibat lonjakan harga energi. Hal itu dapat memperumit langkah European Central Bank yang sebelumnya mulai mempertimbangkan pelonggaran moneter.
Konsensus yang dihimpun Bloomberg memproyeksikan inflasi Italia mencapai 3,3% secara tahunan pada Mei, dari 2,8% pada April. Sementara, inflasi Spanyol diprediksi mencapai 3,4%, dari posisi April di 3,2%, dan Perancis 2,5% dari sebelumnya 2,2%.
Di sisi lain, Afrika Selatan bahkan diperkirakan akan menaikkan suku bunga pekan ini untuk menahan dampak inflasi akibat perang Iran. Langkah serupa juga berpotensi terjadi di negara berkembang lain yang rentan terhadap kenaikan harga minyak.
Di Australia, data inflasi yang dirilis Rabu kemungkinan menunjukkan indikator trimmed mean masih berada di atas target bank sentral pada April, mempertahankan tekanan terhadap Reserve Bank of Australia di tengah ekspektasi pasar akan kenaikan suku bunga tambahan pada Agustus atau September.
Sementara itu, laba industri China pada April akan menjadi indikator penting mengenai kemampuan manufaktur bertahan di tengah gejolak geopolitik global setelah mencatat kenaikan 15,5% pada kuartal pertama, menjadi kenaikan terbesar untuk periode tersebut dalam lima tahun terakhir.
Sementara itu, negara-negara pengimpor energi menghadapi tekanan ganda. Selain inflasi yang meningkat, pelemahan nilai tukar juga menjadi ancaman serius akibat membengkaknya kebutuhan impor minyak dan keluarnya arus modal asing dari pasar keuangan domestik.
Bagi negara berkembang, situasi ini menjadi pengingat bahwa konflik geopolitik dapat dengan cepat berubah menjadi tekanan ekonomi global. Perang tidak hanya memengaruhi stabilitas keamanan, tetapi juga menciptakan efek domino terhadap harga energi, inflasi, suku bunga, hingga pertumbuhan ekonomi dunia.
Setelah Indonesia mengumumkan suku bunga acuan pada pekan lalu dengan menaikkan BI Rate secara agresif menjadi 5,25%, pekan ini beberapa bank sentral dijadwalkan mengumumkan kebijakan pekan ini.
Di antaranya Guatemala, Uruguay, Hungaria, Kirgistan, Sri Lanka, Mozambik, Korea Selatan, Selandia Baru, Afrika Selatan, Eswatini, dan Lesotho.
Jika harga minyak terus bertahan tinggi dan jalur perdagangan energi global tetap terganggu, bank sentral dunia kemungkinan akan kembali memasuki fase kebijakan moneter ketat lebih lama dari perkiraan sebelumnya.
(dsp)























