Logo Bloomberg Technoz

Situasi tersebut menjadi tantangan besar bagi Federal Reserve yang sebelumnya mulai membuka ruang pelonggaran kebijakan moneter. Kini, bank sentral AS justru menghadapi risiko baru bahwa inflasi dapat kembali mengakar lebih lama akibat gangguan pasokan energi global.

Harga bensin di AS saat ini mendekati level tertinggi sejak 2022. Kenaikan biaya energi membuat masyarakat semakin pesimistis terhadap kondisi ekonomi. Sentimen konsumen bahkan tercatat jatuh ke rekor terendah, mencerminkan meningkatnya tekanan terhadap daya beli rumah tangga.

Bukan hanya konsumen yang tertekan. Dunia usaha global juga mulai mengeluhkan lonjakan biaya bahan baku dan distribusi. Ketidakpastian jalur perdagangan energi, khususnya di Selat Hormuz, membuat biaya logistik dan premi risiko meningkat tajam.

Jika ketegangan geopolitik terus berlangsung dan gangguan pasokan minyak tidak segera mereda, tekanan inflasi diperkirakan semakin sulit dikendalikan. Dalam kondisi seperti ini, ruang bank sentral untuk memangkas suku bunga menjadi sangat terbatas.

Karena itu, pasar kini mulai mengubah ekspektasi terhadap arah kebijakan The Fed. Investor akan mencermati pidato sejumlah pejabat Federal Reserve pekan depan, termasuk John Williams, Philip Jefferson, dan Neel Kashkari, untuk mencari petunjuk mengenai langkah kebijakan berikutnya.

Sinyal paling jelas datang dari Gubernur The Fed Christopher Waller yang menyatakan peluang kenaikan suku bunga kini sama besar dengan kemungkinan penurunan suku bunga. Pernyataan itu memperlihatkan perubahan sikap otoritas moneter AS yang sebelumnya cenderung dovish.

Kondisi tersebut juga mendorong kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS. Investor mulai memperhitungkan kemungkinan suku bunga bertahan tinggi lebih lama di tengah meningkatnya risiko inflasi akibat perang.

“Jika kepercayaan konsumen terus melemah, risiko perlambatan momentum belanja hingga musim panas akan semakin besar. Laporan laba terbaru perusahaan sektor konsumsi non-primer seperti target menunjukkan pengembalian pajak sejauh ini menopang belanja masyarakat,” sebut analis Bloomberg Economics Anna Wong, Stuart Paul, Eliza Winger, Chris G. Collins, Alex Tanzi, dan Troy Durie, dalam catatannya.

Bloomberg Economics menambahkan, jika Selat Hormuz tetap ditutup, harga bensin yang tinggi secara berkelanjutan akan menggerus bantalan dari dana pengembalian pajak tersebut. 

(dsp)

No more pages