Harga emas bergerak di rentang sempit karena pasar menunggu kabar dari Timur Tengah. Investor menantikan perkembangan seputar perundingan damai Amerika Serikat (AS)-Iran.
Bloomberg News memberitakan bahwa Teheran kini sedang mengkaji proposal terbaru dari AS. Proposal itu disebut sudah “mendekati”.
Namun di sisi lain, ada pula berita bahwa Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei memberi instruksi bahwa uranium yang sudah diolah mendekati level persenjataan tidak boleh dikirim ke luar negeri. Kemudian Presiden AS Donald Trump disebut menolak upaya dari Iran dan Oman untuk membuat semacam jalur permanen yang melewati Selat Hormuz.
Berita-berita yang saling bertolak belakang ini memberi sinyal bahwa kedua pihak sebenarnya masih jauh dari kata sepakat. Bagi investor, artinya risiko kenaikan harga energi masih tinggi karena situasi di Timur Tengah belum bisa membaik dalam waktu dekat.
Artinya, sepertinya bakal sulit bagi bank sentral di berbagai negara untuk melonggarkan kebijakan moneter melalui penurunan suku bunga acuan. Emas adalah aset yang tidak memberikan imbal hasil (non-yielding asset), sehingga kurang menguntungkan saat suku bunga belum turun.
(aji)































