Hubungan dekat Al-Maliki dengan Iran memicu kekhawatiran di tengah perang antara Republik Islam itu melawan AS dan Israel, ketika Trump berupaya membendung pengaruh Teheran di Timur Tengah melalui kelompok-kelompok proksinya.
Kelompok militan di Irak telah terlibat dalam konflik yang sedang berlangsung, berulang kali menargetkan Kedutaan Besar AS di Baghdad serta sekutu-sekutu negara itu di Teluk, khususnya Kuwait.
Presiden AS tersebut sepakat dengan al-Zaidi dalam percakapan telepon pada akhir April untuk bekerja sama memperkuat stabilitas kawasan, dan mengundangnya ke Washington setelah berhasil membentuk pemerintahan.
“Kami menyatakan penolakan terhadap penggunaan daratan dan wilayah udara Irak sebagai landasan peluncuran serangan terhadap negara-negara sahabat dan persaudaraan, dan kami menegaskan bahwa Irak adalah kawasan tempat berbagai kepentingan bersama bertemu,” kata al-Zaidi dalam unggahannya di X pada Kamis.
Pernyataan itu disampaikan sehari setelah Kementerian Luar Negeri United Arab Emirates mengatakan Irak harus segera bertindak untuk mencegah agresi yang berasal dari wilayahnya.
Sebelum gencatan senjata dengan AS, Iran secara intensif menargetkan lokasi ekonomi, sipil, politik, dan militer di negara-negara Teluk, dengan UEA menanggung dampak terbesar dari kampanye tersebut. Serangan Iran juga menghantam Israel, Irak, dan Yordania.
(bbn)





























