Praktik tersebut dinilai Purbaya kerap dilakukan eksportir dalam negeri. Dengan kata lain, perusahaan itu acapkali punya anak usaha atau afiliasi di luar negeri, sehingga keuntungannya lari ke luar negeri.
Dengan adanya badan ekspor baru itu, diyakini bisa membuat transaksi ekspor lebih transparan, mengurangi praktik manipulasi nilai ekspor tersebut, lalu pada akhirnya meningkatkan laba perusahaan dan valuasi saham di bursa.
"Nanti under-invoicing kan akan tertutup dengan adanya badan ekspor itu. Jadi tadi yang biasa jadi uang jadi mainnya oleh pemilik, karena perusahaan yang di luar negeri punya pemilik kan. Sekarang bisa harusnya terrefleksi langsung di penjualan mereka yang murni," tutur dia.
"Jadi perusahaannya juga akan untung. Jadi harusnya bisa double untungnya yang listing dibursa, yang dilaporkan. Jadi harusnya ini akan meningkatkan valuasi dari perusahaan-perusahaan yang ada di bursa. Pasti pelan-pelan akan naik secara signifikan."
IHSG pagi hari ini, Kamis (21/5/2026), berbalik arah jadi turun 2% menyentuh posisi 6.186. Pelemahan IHSG datang usai rupiah melemah ke Rp17.669/US$, yang kembali mendekati level terendah sepanjang sejarah per pukul 10:00 WIB.
Jatuhnya indeks tersebut juga berbanding terbalik dengan bursa Asia yang justru kompak menghijau, seperti KOSPI (Korea Selatan), KOSDAQ (Korea Selatan), NIKKEI 225 (Jepang), TW Weighted Index (Taiwan), Topix (Jepang), hingga Straits Times (Singapura).
(lav)































