Logo Bloomberg Technoz

Sebelumnya, Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM Laode Sulaeman menjelaskan bahwa kenaikan harga minyak mentah utama di pasar internasional pada April 2026 secara umum dipengaruhi oleh meningkatnya tensi geopolitik di kawasan Timur Tengah—khususnya konflik antara Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran—yang memicu kekhawatiran terhadap gangguan pasokan minyak global.

“Peningkatan harga minyak mentah pada April 2026 dipengaruhi oleh berlanjutnya eskalasi konflik geopolitik yang meningkatkan risiko gangguan suplai minyak dunia, terutama terkait dengan kondisi di kawasan Timur Tengah dan Selat Hormuz,” ujar Laode dalam keterangan tertulis, Selasa (19/5/2026).

Menurut Laode, berbagai perkembangan sepanjang April 2026 turut memberikan tekanan terhadap pasar minyak dunia, mulai dari gejolak Selat Hormuz, blokade Pelabuhan Iran oleh AS, hingga serangan terhadap infrastruktur energi di kawasan Timur Tengah. 

Kondisi tersebut mendorong meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap stabilitas pasokan energi global.

Selain faktor geopolitik, pertumbuhan ekonomi China pada kuartal I-2026 yang mencapai 5% secara tahunan turut memberikan sentimen positif terhadap permintaan minyak dunia.

Laode menambahkan, meskipun harga minyak dunia masih berpotensi mengalami tekanan akibat kondisi geopolitik global, terdapat beberapa faktor yang dapat menahan kenaikan harga.

Misalnya; proyeksi penurunan permintaan minyak global pada kuartal II-2026 yang diperkirakan sebesar 5 juta barel per hari (bph) secara year on year (yoy) dan potensi terbukanya kembali jalur diplomasi damai antara Iran dan AS.

“Pemerintah akan terus memantau perkembangan pasar minyak global secara cermat untuk menjaga ketahanan energi nasional serta memastikan stabilitas pasokan energi dalam negeri,” jelas Laode.

(smr/ros)

No more pages