Sebelumnya pada hari yang sama, Xi menyambut Putin di Lapangan Tiananmen dengan upacara kenegaraan penuh, serupa dengan penyambutan yang diterima Trump beberapa hari lalu. Dentuman meriam penghormatan 21 kali bergaung mengiringi lagu kebangsaan kedua negara yang dimainkan oleh korps musik militer. Sementara itu, puluhan anak-anak yang memegang bendera Rusia dan China menyambut mereka sembari bersorak, "Selamat datang, selamat datang."
Pertemuan para pemimpin Rusia dan China—dua penyokong terbesar Iran—ini terjadi sehari setelah Trump mengklaim dirinya menunda pemboman baru ke Iran yang semula direncanakan untuk hari Selasa atas permintaan negara-negara sekutunya di Teluk Persia.
Pernyataan Trump kembali meningkatkan kemungkinan pecahnya kembali konflik terbuka dengan Iran, yang sejauh ini menolak memenuhi tuntutan AS untuk melepaskan sisa elemen program nuklirnya setelah berminggu-minggu serangan sejak akhir Februari.
Dalam sambutan pembuka sebelum pertemuan, Putin mengatakan hubungan Rusia dan China berada pada tingkat tertinggi yang belum pernah terjadi sebelumnya dan menjadi contoh kemitraan strategis.
Menyebut Xi sebagai “sahabat baik”, Putin mengatakan Rusia tetap menjadi pemasok energi yang dapat diandalkan bagi China.
“Dalam situasi internasional yang penuh ketegangan saat ini, kerja sama erat kita sangat dibutuhkan,” ujar Putin.
Xi mengatakan hubungan kedua negara berkembang karena kedua pihak terus memperdalam kepercayaan politik dan koordinasi strategis.
“China dan Rusia harus fokus pada strategi jangka panjang dan mendorong pembangunan serta kebangkitan negara masing-masing,” kata Xi, menurut laporan China Central Television.
Ia menambahkan kedua negara juga harus “membangun sistem tata kelola global yang lebih adil dan rasional” di tengah “hegemoni sepihak yang semakin merajalela”, yang dinilai sebagai sindiran terselubung terhadap AS.
Putin dan Xi, yang dikenal memiliki hubungan dekat dan kesamaan visi mengenai tatanan dunia multipolar untuk menantang dominasi global AS, dijadwalkan menggelar pembicaraan sepanjang Rabu dan juga melakukan pertemuan santai sambil minum teh bersama. Kementerian Luar Negeri China menyebut kunjungan ini sebagai lawatan ke-25 Putin ke negara tersebut.
Secara resmi, kunjungan Putin dilakukan untuk memperingati 25 tahun perjanjian persahabatan dan kerja sama Rusia-China. Namun, lawatan itu juga berlangsung tidak lama setelah Xi menggelar pertemuan puncak dengan Trump di Beijing pekan lalu.
Ajudan kebijakan luar negeri Kremlin, Yuri Ushakov, mengatakan diskusi sambil minum teh merupakan “salah satu agenda paling penting” dalam kunjungan tersebut.
“Kami, seperti rekan-rekan China kami, berharap pertemuan minum teh ini berlangsung selama mungkin,” ujarnya kepada wartawan pada Senin.
Salah satu agenda utama pembicaraan Rusia-China adalah proyek pipa gas Power of Siberia 2, menurut Kremlin. Kedua pihak juga berencana menandatangani sekitar 40 dokumen kerja sama.
Kantor berita Tass melaporkan salah satu hasil yang kemungkinan muncul dari pertemuan puncak itu adalah pernyataan bersama mengenai penguatan lebih lanjut kemitraan dan kerja sama strategis antara China dan Rusia. Selain bertemu Xi, Putin juga dijadwalkan menggelar pembicaraan terpisah dengan Perdana Menteri China Li Qiang.
Rusia berharap gejolak pasar energi akibat konflik Timur Tengah dan penutupan efektif Selat Hormuz dapat membuat China lebih fleksibel dalam negosiasi harga gas untuk proyek tersebut.
Media pemerintah China menyoroti berbagai potensi kerja sama mulai dari energi, pertanian, sains dan teknologi hingga antariksa dan kecerdasan buatan. Delegasi Rusia yang ikut dalam kunjungan tersebut mencakup pejabat tinggi pemerintah serta pimpinan perusahaan besar seperti Gazprom, Rosatom, dan Roscosmos.
Di tengah tekanan ekonomi yang semakin besar, Rusia kini sangat bergantung pada perdagangan dengan China untuk mengurangi dampak sanksi Barat terkait invasi besar-besaran ke Ukraina yang telah memasuki tahun kelima. Bloomberg sebelumnya melaporkan lebih dari 90 persen teknologi yang dikenai sanksi diimpor Rusia melalui China.
China membantah telah memasok senjata kepada pihak mana pun dalam konflik Ukraina dan menyatakan pihaknya mengontrol secara ketat ekspor barang-barang dengan fungsi ganda.
AS pada beberapa kesempatan mencoba memisahkan Rusia dari kemitraannya dengan China sebagai bagian dari strategi geopolitik yang lebih luas terkait perang Ukraina dan potensi konfrontasi dengan Beijing terkait Taiwan. Namun, Putin dinilai tidak memiliki banyak alasan untuk menjauh dari Xi, meskipun sebagian pejabat Kremlin mulai khawatir terhadap ketergantungan ekonomi dan diplomatik Rusia terhadap China.
“Putin tidak akan bisa melanjutkan perang di Ukraina tanpa dukungan sistematis yang diberikan China kepada mesin perang Rusia,” kata Henrietta Levin.
“Di Beijing, kita bisa memperkirakan Putin akan mencari dukungan material yang lebih besar untuk militer Rusia dan bantuan lebih lanjut dari lembaga keuangan China guna menghindari sanksi AS dan Eropa,” tambahnya.
Sementara itu, Beijing memandang Moskow sebagai mitra penting untuk melemahkan dominasi AS dan mendorong tatanan dunia multipolar. Namun, China juga tampak berhati-hati agar tidak terlalu dikaitkan dengan risiko perang Rusia di Ukraina, terutama ketika Beijing berupaya menampilkan diri sebagai kekuatan penstabil global.
Sikap tersebut menjelaskan kontradiksi yang terlihat dalam posisi China. Beijing menolak mengutuk invasi Rusia, namun pejabat China tetap menekankan pentingnya kedaulatan, integritas wilayah, dan otoritas Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) — bahasa diplomatik yang dinilai bertentangan dengan tuntutan teritorial Moskow di Ukraina.
China juga ingin menghindari anggapan bahwa pihaknya bertanggung jawab menggunakan hubungan dengan Moskow untuk mengakhiri perang. Meski demikian, Beijing tetap berupaya mempertahankan hubungannya dengan Rusia.
“Putin akan datang ke pertemuan dengan Xi dengan perasaan cukup nyaman terkait kunjungan Trump ke Beijing,” kata Dennis Wilder.
“Namun demikian, Putin tentu ingin memastikan bahwa setiap perbaikan hubungan China dengan Washington tidak akan mengubah segitiga strategis yang membuat China dan Rusia lebih dekat dibanding hubungan AS dengan salah satu dari keduanya,” ujarnya.
(bbn)




























