Perdagangan siang tengah hari ini, KOSDAQ (Korea Selatan), Ho Chi Minh Stock Index (Vietnam), TOPIX (Jepang), NIKKEI 225 (Jepang), KOSPI (Korea Selatan), Hang Seng (Hong Kong), Straits Times (Singapura), TW Weighted Index (Taiwan), Shenzhen Comp. (China), KLCI (Malaysia), Shanghai Composite (China), dan SENSEX (India) yang tertekan dan drop dengan masing–masing mencapai 2,54%, 2,42%, 1,61%, 1,39%, 0,72%, 0,67%, 0,67%, 0,39%, 0,37%, 0,32%, 0,24%, dan 0,08%.
Melemahnya sejumlah Bursa Saham Asia dan IHSG tersulut konflik Timur Tengah yang masih memanas, mengancam adanya serangan baru.
Terbaru, Presiden AS Donald Trump mengancam melanjutkan serangan militer ke Iran dalam beberapa hari mendatang sebagai bagian dari upayanya menekan Teheran agar mau menyepakati perjanjian damai.
Gencatan senjata yang sempat bertahan saat ini kembali berada di ujung tanduk, hanya berselang sehari setelah Trump mengklaim dirinya baru saja membatalkan sebuah serangan udara ke wilayah Iran, seperti yang dilaporkan Bloomberg News.
“Saya berharap kita tidak harus mengobarkan perang, tetapi kita mungkin harus memberi mereka satu serangan besar lagi,” papar Trump kepada para jurnalis, Selasa setempat.
Pernyataan tersebut kembali meningkatkan kecemasan global akan pecahnya pertempuran terbuka dengan Iran. Hingga saat ini, Teheran masih menolak tunduk pada tuntutan Trump agar mereka menyerahkan sisa-sisa elemen program nuklirnya, setelah berminggu-minggu digempur serangan udara yang dimulai sejak Februari lalu.
Perang dengan Iran memicu kenaikan inflasi di seluruh dunia. Hal ini terungkap dalam survei global terhadap para ekonom yang dilangsungkan oleh Bloomberg.
Ancaman inflasi terbesar dari perang ini bersumber dari lonjakan harga minyak dan gas. Hal ini menyusul lumpuhnya aktivitas di Selat Hormuz, jalur yang biasanya dilintasi oleh seperlima pasokan energi laut dunia.
Dengan harga minyak yang bertahan mahal di atas US$100 per barel dan belum adanya tanda-tanda de–eskalasi pada konflik Timur Tengah, yield Treasury AS tenor 30 tahun melejit tajam.
Investor cemas tingginya biaya energi dapat memaksa Bank Sentral Amerika Serikat (Federal Reserve/The Fed) untuk menaikkan suku bunga ketimbang memangkasnya.
“Isu kenaikan imbal hasil obligasi masih menjadi sesuatu yang bisa menimbulkan masalah bagi pasar saham yang saat ini sudah tergolong mahal,” ujar Matt Maley dari Miller Tabak, melansir Bloomberg News.
(fad)




























