Pri Agung meyakini AS tidak akan ikut menyanksi Indonesia karena membeli minyak Rusia di tengah ancaman krisis energi dan sudah ditekennya kerja sama impor komoditas energi antara RI dengan AS.
“Toh tidak mungkin juga semua kebutuhan kita bisa dipasok dari AS [dengan kesepakatan dagang]. Jadi, logis untuk kemudian kita mencari sumber pasokan baru dari berbagai pihak, termasuk dalam hal ini dari Rusia,” katanya.
Sebelumnya, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memastikan rencana impor minyak mentah dengan volume total 150 juta ton dari Rusia tetap berlanjut, meskipun AS mengakhiri relaksasi sanksi terhadap produk migas Rusia medio bulan ini.
Direktur Jenderal Migas Kementerian ESDM Laode Sulaeman memastikan rencana impor minyak mentah dari Rusia tidak akan dibatalkan. Apalagi, Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung baru saja melakukan kunjungan kerja ke negara tersebut.
“Sekarang kan masih tetap berproses kan kemarin juga Pak Wamen barusan kembali dari sana juga. Jadi proses tetap berjalan lah,” kata Laode kepada awak media di Kantor Kementerian ESDM, Senin (18/5/2026).
Lebih lanjut, Laode memastikan Indonesia bakal menempuh berbagai langkah apabila nantinya terdapat kendala dalam mendatangkan minyak mentah Rusia. Salah satunya, memanfaatkan keanggotaan Indonesia dalam BRICS.
“Iya, kita semua koridor kalau kita enggak bisa ke sana, kita ke BRICS. Akan tetapi, intinya secara negara pun satu negara kita kan bebas aktif ya. Jadi itu, apalagi kita juga anggota BRICS,” tegas dia.
Akhir pekan lalu, Pemerintahan Presiden AS Donald Trump resmi mengakhiri relaksasi sanksi yang mendorong lebih banyak penjualan minyak mentah Rusia, bahkan ketika perang Iran memicu kekhawatiran tentang pasokan minyak global dan biaya bahan bakar yang lebih tinggi.
Berakhirnya pengecualian sanksi tersebut secara efektif menghentikan untuk sementara waktu periode singkat di mana pemerintahan Trump melonggarkan sanksi terhadap beberapa minyak Rusia, sehingga memungkinkan pembelian yang seharusnya dilarang.
AS mengeluarkan pengecualian pertama pada Maret dan yang kedua setelah yang pertama berakhir pada April. Keduanya hanya berlaku untuk sebagian kecil minyak Rusia yang telah dimuat ke kapal tanker.
(smr/wdh)




























