Logo Bloomberg Technoz

APSyFI: Isu Bahan Baku Bikin Industri Tekstil Masuk Fase Sulit

Sabrina Mulia Rhamadanty
03 July 2026 19:20

Pengunjung melihat produk kain di salah satu toko tekstil di Pasar Mayestik, Jakarta, Selasa (14/4/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Pengunjung melihat produk kain di salah satu toko tekstil di Pasar Mayestik, Jakarta, Selasa (14/4/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filamen Indonesia (APSyFI) mengungkapkan bahwa industri tekstil nasional saat ini sedang memasuki masa sulit. Kondisi ini dipicu oleh lonjakan harga bahan baku dan melemahnya daya saing di pasar domestik maupun internasional.

Keterpurukan sektor ini tercermin dari Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktur nasional yang mengalami kontraksi ke level 46,9 pada Juni 2026. Angka tersebut menunjukkan penurunan dari posisi Mei 2026 yang sempat berada di level ekspansif, yakni 50.

Ketua Umum APSyFI, Redma Gita Wirawasta menjelaskan bahwa industri manufaktur, khususnya tekstil, menghadapi tekanan berat dari sisi internal maupun eksternal. Faktor-faktor seperti kenaikan harga bahan baku, gejolak nilai tukar, tingginya suku bunga, hingga harga gas industri yang mahal menjadi beban utama bagi produsen.


"Kenaikan harga bahan baku, energi, dan suku bunga langsung berimbas negatif pada daya saing kami. Jangankan bersaing untuk pasar ekspor, di dalam negeri saja pemerintah belum bisa menciptakan iklim persaingan yang kondusif antar-pelaku usaha," ujar Redma saat dihubungi pada Jumat (3/7/2026).

Menurut Redma, situasi ini semakin diperparah oleh banjirnya barang impor dengan harga dumping (jual rugi) serta maraknya aktivitas importasi ilegal yang menguasai pasar domestik. Ia menilai penurunan indeks manufaktur ini berakar pada kebijakan perlindungan produk lokal yang setengah hati serta belum mumpuninya integrasi ekosistem industri di dalam negeri.