Bhima menambahkan, sekalipun harga BBM subsidi maupun nonsubsidi tidak naik, Celior memperkirakan adanya potensi seretnya pasokan di dalam negeri.
“Pemerintah kan sudah cukup pede bahwa harga tidak naik terutama yang [BBM] subsidi, tetapi justru kami menduga pasokannya yang tidak ada. Volume impornya yang dicoba untuk diturunkan," ujarnya.
"Menurut saya, sebelum bicara kenaikan harga, ada potensi pasokan yang berkurang drastis. Karena kalau yang berkaitan dengan harga akan memicu gelombang protes."
Untuk menyelamatkan anggaran negara dari pengeluaran tambahan atas Rp150 triliun, menurut Bhima, pemerintah dalam hal ini Kementerian Keuangan harus bisa mengurangi beban dari proyek-proyek raksasa kabinet seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih (Kopdes).
“Pemerintah akan ambil Rp150 triliun dari mana supaya nambal subsidi BBM? Agar tidak naik harganya, jawabannya bisa dari proyek raksasa seperti biaya untuk MBG dan Kopdes Merah Putih,” ungkapnya.
Harga BBM
Adapun, analis mata uang Doo Financial Futures Lukman Leong mengatakan pelemahan rupiah tentu meningkatkan tekanan terhadap harga BBM domestik karena Indonesia masih mengimpor sebagian minyak mentah maupun BBM, sementara transaksi energi menggunakan dolar AS.
“Dengan kurs yang sudah melemah cukup dalam, secara teori memang ada tekanan kenaikan harga BBM Juni,” ungkap Lukman.
Meski begitu, jika harga BBM tetap ditahan di tengah pelemahan rupiah dan tingginya harga energi global, maka konsekuensinya adalah meningkatnya beban subsidi dan kompensasi energi dalam APBN tahun ini.
“Namun, apabila pelemahan rupiah berlangsung berkepanjangan dan tekanan subsidi terus membesar, risiko penyesuaian harga atau perubahan skema subsidi tetap terbuka,” tutup Lukman.
(smr/wdh)



























