Sebagai bagian dari serangan balasan, Republik Islam Iran menembakkan ratusan misil serta jumlah drone yang serupa ke arah Israel, sementara proksi Iran yang berbasis di Lebanon, Hezbollah, menyerang wilayah utara Israel.
Hal itu mendorong otoritas Israel membatasi kegiatan berkumpul selama enam minggu pertempuran hingga gencatan senjata antara AS dan Iran tercapai pada awal April, sehingga mengganggu aktivitas bisnis dan ekonomi.
Lebih dari 100.000 pria dan wanita juga dipanggil untuk bergabung dengan pasukan cadangan militer dan sekolah-sekolah ditutup selama satu bulan.
Perang dengan Iran berdampak pada konsumsi swasta maupun publik, yang masing-masing turun 4,7% dan 4,8%, menurut pernyataan Biro Pusat Statistik Israel. Produk domestik bruto sektor bisnis turun 3,1%, sementara PDB per kapita merosot 4,5%.
Kemerosotan ekonomi pada kuartal tersebut lebih ringan dibandingkan setelah perang 12 hari Israel dengan Iran pada Juni 2025, yang menyebabkan banyak bisnis berhenti beroperasi total.
Pada kuartal itu, PDB turun 4,3%. Serangan balasan Iran terhadap Israel saat itu lebih intens, tanpa ada negara lain yang menjadi sasaran serangan misil balistik Iran.
Jumlah proyektil yang ditembakkan selama dua minggu perang saat itu kurang lebih sama dengan yang terjadi dalam perang terbaru selama enam minggu.
Ekonomi Israel kemudian kembali tumbuh pada dua kuartal terakhir 2025, dan pertumbuhan meningkat untuk keseluruhan tahun.
Bank sentral Israel dan kementerian keuangan memperkirakan pertumbuhan ekonomi mencapai 3,8% tahun ini, setelah memangkas proyeksi sebelumnya masing-masing dari 5,2% dan 4,8%.
Untuk mencapai target tersebut, ekonomi perlu pulih pada sisa tahun ini, sesuatu yang sangat bergantung pada keberlanjutan gencatan senjata di Iran, Lebanon, dan Gaza.
Israel kehilangan 8,6% dari PDB tahunan selama dua tahun hingga 2025 akibat kondisi konflik yang nyaris terus-menerus, terutama perang di Gaza yang dipicu oleh serangan Hamas pada Oktober 2023.
(bbn)






























