Logo Bloomberg Technoz

Seperti, Jensen Huang (Nvidia Corp), Elon Musk (Tesla Inc), Tim Cook (Apple Inc), Larry Fink (BlackRock Inc), Steve Schwarzman (Blackstone Inc), Kelly Ortberg (Boeing Co), Brian Sikes (Cargill Inc), Jane Fraser (Citigroup Inc), Larry Culp (GE Aerospace), David Solomon (Goldman Sachs Group Inc), Sanjay Mehrotra (Micron Technology Inc), Cristiano Amon (Qualcomm Inc). 

Apa saja yang akan dibahas dalam pertemuan antara Presiden AS dan Presiden China Xi Jinping? 

Mengamankan Pasokan Mineral Tanah Jarang

Selama bertahun-tahun, dunia industri Barat menikmati komoditas mineral tanah jarang (rare earth) dengan biaya murah berkat efisiensi dari rantai pasok China tanpa memikirkan risikonya, kini ketergantungan itu berubah jadi kerentanan geopolitik.

Dominasi China atas rare earth dan produksi magnet di tahun 2025. (Bloomberg Economic)

Sepertinya kunjungan Trump ke China kali ini bertujuan untuk menghindari terulangnya guncangan pasokan mineral tanah jarang, yang saat ini dikuasai oleh China. 

Pada 2025 saja, China (perusahaan yang berada di bawah kendalinya), menguasai setidaknya 83% produksi tambang mineral tanah jarang dunia, 91% proses pemisahan mineral tanah jarang berjenis oxide, dan 94% produksi magnet mineral tanah jarang global pada 2024. 

Pada April lalu, kebijakan tarif dari Trump mendorong China menghentikan ekspor magnet rare earth, dan menyebabkan industri otomotif, elektronik, hingga pertahanan global langsung terguncang. Kalangan manufaktur global selama ini sangat bergantung pada China untuk pasokan komoponen penting itu. 

Dominasi China atas rare earth terus berlanjut. (Bloomberg Economics)

Sejak saat itu, pemerintah Trump dan negara-negara Barat mengurangi ketergantungannya pada pasokan China dengan berbagai instrumen kebijakan yang belum pernah terjadi sebelumnya. 

Seperti, mengambil alih saham di perusahaan tambang dan produsen magnet, menetapkan harga dasar untuk mendorong produksi domestik, sampai program penimbunan strategis bernilai miliaran dolar. 

Dari kejadian itu, sepertinya Washington sadar, jika perang dagang bukan melulu soal tarif, tapi juga perebutan kendali atas sumber daya strategis abad ke-21. 

Tapi, upaya yang dilakukan AS tentu membutuhkan waktu panjang, bahkan dengan mobilisasi besar-besaran sekalipun. Praktis, China diperkirakan tetap akan mendominasi rantai pasok rare earth, setidaknya hingga tahun 2030, menurut Chris Kennedy, Analis Bloomberg Intelligence dalam catatannya. 

Hubungan Dagang Makin Rumit

Di sisi lain, Beijing datang ke meja perundingan dengan rasa percaya diri lebih besar daripada era perang dagang pertama Trump. China sepertinya merasa telah berhasil bertahan dari tekanan tarif AS. Ekspor mereka tetap tangguh, pasar domestik perlahan diperkuat, sementara ketergantungan dunia terhadap manufaktur China tak sepenuhnya berkurang. 

Menurut Chang Shu Kepala Ekonom Asia Bloomberg, dan Eric Zhu Ekonom Bloomberg, dalam konteks tersebut, narasi mengenai 'decoupling' atau pemisahan ekonomi AS-China sebenarnya tidak sepenuhnya tepat.

Dalam catatan keduanya menyebut, kunjungan ini bukan memisahkan ekonomi AS-China akan tetapi membuat hubungan itu bertransformasi jadi lebih rumit dan tidak transparan, karena akan jauh lebih kompleks, sulit diukur, diatur, maupun diputus. 

Perdagangan langsung memang menurun dan ekspor teknologi AS ke China tertinggal dibanding pengiriman ke negara-negara lain. Tetapi aliran barang melalui negara ketiga justru meningkat.

"Arus perdagangan tidak langsung melalui negara ketiga justru tetap bertahan, membuat ketergantungan itu menjadi lebih tidak transparan, bukan melemah," sebut Chang Shu dan Eric Zhu, dalam catatannya. 

Memang, decoupling di sektor teknologi tinggi terlihat secara gamblang dan cepat. Teknologi tinggi mulai terpisah menjadi dua ekosistem berbeda antara AS dan China, tetapi sektor keuangan masih saling terhubung. Bahkan ketika China mengurangi kepemilikan obligasi AS, investasi dan aliran modal kedua negara tetap berlangsung.

Rivalitas AS dan China dalam Industri Kecerdasan Buatan 

Lawatan Trump ke Beijing membawa serta 12 orang delegasi terdiri pebisnis perusahaan besar, termasuk Jensen Huang dari perusahaan chip kecerdasan buatan (AI), Nvidia. 

Meski belum jelas apakah dalam pertemuan itu Trump secara spesifik akan membahas Nvidia, namun perhatian besar pelaku pasar tertuju pada kemungkinan Beijing memberikan persetujuan bagi perusahaan-perusahaan China untuk membeli chip AI canggih Nvidia H200. 

Chip tersebut digunakan untuk melatih dan menjalankan model AI seperti ChatGPT milik OpenAI. Selama ini, ekspor chip tersebut ke China memerlukan izin khusus dari pemerintah AS, karena Washington khawatir teknologi itu dapat digunakan untuk memperkuat sektor militer China. 

Washington sekarang telah terbuka matanya, bahwa AI bukan sekadar bisnis, tapi instrumen kekuatan geopolitik. 

AS masih mempertahankan keunggulan dalam kapabilitas AI-nya, sementara China terus menjaga laju persaingan. (diolah Bloomberg Economics)

Tim Trump sebenarnya telah memberikan lisensi ekspor H200 beberapa bulan lalu, sebuah perubahan besar dalam kebijakan AS dan kemenangan bagi Huang.

Tapi, kondisinya saat ini terbalik, pemerintah China yang jadi hambatan dengan menolak impor chip AI Nvidia versi H20 pada tahun lalu, dan mempercepat swasembada semikonduktor. 

Menurut Michael Deng, Analis Teknologi dan Geoekonomi Bloomberg, peluang tercapainya kesepakatan besar terkait pelonggaran kontrol ekspor dan peningkatan penjualan chip ke China sangat terbatas. 

"Karena itu, pertemuan ini lebih mungkin menghasilkan kesepakatan yang lebih sempit— misalnya peningkatan dialog terkait AI—sementara persaingan dalam perangkat lunak, ekosistem teknologi, dan adopsi global akan terus meningkat," sebut Michael Deng, dalam catatannya. 

Trump Menjajakan Dagangan AS

Pertemuan Trump dengan Presiden China, Xi Jinping kali ini terjadi di titik kritis perdagangan AS-China. Setelah putusan Mahkamah Agung AS pada Februari membatasi sebagian besar program tarif pemerintah Trump, tarif AS terhadap produk China turun ke level terendah dalam setahun. 

Ekspor AS ke China menurun. (Bloomberg)

Selain soal chip Nvidia, lawatan Trump kali ini juga disebut-sebut bertujuan untuk kembali menjajakan produk AS yang mencakup dalam 'Tiga B': soybeans (kedelai), beef (daging), Boeing (pesawat Boeing). 

Tiga komoditas itu menyumbang sekitar 12% dari total ekspor AS ke China, sehingga besar kemungkinan Trump akan mendorong Beijing meningkatkan pembeliannya. 

Kontribusi komoditas 'Tiga B' terhadap ekspor AS. (diolah Bloomberg Economics)

Akan tetapi, posisi tawar China tidak rendah. Di tengah dominasi Beijing atas ekspor rare earth yang vital bagi industri teknologi dan manufaktur global, Xi Jinping tentu memiliki posisi yang jauh lebih kuat dalam negosiasi kali ini. 

Taiwan di Persimpangan Jalan

Kondisi ini membawa hubungan dagang kedua negara, dengan ekonomi terbesar itu, berbentuk interdependensi strategis. Yaitu saat dua negara saling membutuhkan, tapi juga saling terus berupaya mengurangi ketergantungan terhadap satu sama lain. 

Dalam konteks ini, Taiwan jadi titik paling sensitif. Isu Taiwan selalu hadir di balik pertemuan tingkat tinggi AS-China. Bagi Beijing, Taiwan adalah persoalan kedaulatan. Tapi bagi Washington, Taiwan adalah bagian penting dari arsitektur keamanan Asia dan rantai pasok semikonduktor global. 

Setidaknya, dua isu Taiwan yang mungkin muncul dalam pertemuan tersebut. Pertama, penjualan senjata AS ke Taiwan, yang menurut Trump akan dibahas dengan Xi Jinping. 

Kedua, posisi AS terhadap kemerdekaan Taiwan. Isu ini dikabarkan menjadi topik ynag ingin diangkat Beijing sejak tahun lalu. Trump diperkirakan tidak akan menyetujui perubahan kebijakan formal terkait dua isu tersebut.

Meski begitu, pertemuan ini tetap menyimpan risiko. Mulai dari berlanjutnya sikap dingin AS terhadap penjualan senjata ke Taiwan, hingga kemungkinan munculnya komentar spontan Trump, yang bisa dibaca Beijing sebagai sinyal melemahnya dukungan Washington terhadap Taipei. 

Stabilitas Sementara

Tim Bloomberg Intelligence berpandangan bahwa pertemuan Trump dan Xi kali ini kemungkinan hanya menghasilkan stabilitas sementara, bukan penyelesaian mendasar.

Kedua pihak sama-sama membutuhkan ketenangan jangka pendek di tengah tekanan ekonomi domestik. Namun, rivalitas struktural di bidang perdagangan, teknologi, keamanan, dan pengaruh global akan terus berlanjut. 

Bagi pasar global, pesan terpenting dari pertemuan ini mungkin bisa dibaca bahwa dunia tidak sedang bergerak menuju perdamaian ekonomi baru antara AS dan China.

Lebih dari itu, dunia justru sedang masuk ke fase persaingan jangka panjang yang sepertinya akan lebih terkendali, tapi juga lebih kompleks dan sulit diprediksi. 

(dsp)

No more pages