Kabar dari Amerika Serikat (AS) menjadi beban bagi langkah harga emas. US Bureau of Labor Statistics mengumumkan, inflasi tingkat produsen di Negeri Paman Sam untuk periode April berada di 1,4% dibandingkan bulan sebelumnya (month-to-month/mtm). Ini menjadi yang tertinggi sejak Maret 2022 atau empat tahun terakhir.
Catatan tersebut jauh di atas Maret yang sebesar 0,7% mtm. Juga jauh di atas proyeksi pasar yang memperkirakan di 0,5% mtm.
Secara tahunan (year-on-year/yoy), inflasi tingkat produsen AS mencapai 6% pada Maret. Tertinggi sejak Desember 2022.
Angka ini lagi-lagi di atas Maret yang sebesar 4,3% yoy. Juga melampaui ekspektasi pasar dengan perkiraan 4,9% yoy.
Ancaman inflasi tinggi membuat pasar makin ragu akan kemungkinan pelonggaran moneter. Apalagi Senat AS sudah menyetujui Kevin Warsh sebagai pengganti Jerome ‘Jay’ Powell di kursi Gubernur Federal Reserve (Bank Sentral AS).
Sebagai orang dekat Presiden Donald Trump, investor bertanya-tanya apakah Warsh mampu menjaga khittah bank sentral untuk mengambil keputusan tanpa tekanan politik. Independensi bank sentral kembali jadi sorotan pelaku pasar, karena Trump dikenal sangat ingin suku bunga rendah.
Emas adalah aset yang tidak memberikan imbal hasil (non-yielding asset). Memegang emas akan terasa kurang menguntungkan saat suku bunga belum turun.
(aji)





























