Skema tersebut, menurut dia, memberikan celah terjadinya penjualan LPG 3 kg di atas Harga Eceran Tertinggi (HET), kebocoran subsidi, konsumsi yang terus membengkak, hingga salah sasaran penerima.
“Saya kira pertanyaan terpenting justru bukan soal memilih LPG atau CNG, tetapi mengapa masalah subsidi energi terus berulang,” tegas Yusuf.
Beda Karakter
Dengan demikian, Yusuf menyarankan agar CNG 3 kg tidak dirancang untuk langsung menggantikan LPG 3 kg. Secara teknis, kata dia, dua produk tersebut memiliki karakteristik yang berbeda jauh.
LPG, misalnya, dapat disimpan dalam tekanan rendah dan infrastrukturnya sudah familiar di masyarakat, sementara CNG memiliki tekanan tinggi sehingga distribusinya kompleks dan standar keamanannya lebih ketat.
“Karena itu, saya melihat CNG lebih cocok diposisikan sebagai alternatif terbatas, bukan substitusi massal LPG 3 kg. Pendekatan yang lebih masuk akal adalah menjadikan CNG untuk segmen yang memang dekat dengan infrastruktur gas dan memiliki konsumsi besar, seperti hotel, restoran, UMKM kuliner, kawasan industri, atau dapur MBG,” ujar Yusuf.
“Untuk rumah tangga umum, terutama di daerah dengan distribusi logistik sulit, LPG masih jauh lebih praktis dalam jangka menengah."
Sekadar informasi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) sedang mengkaji penggunaan tabung CNG tipe 4, yakni tabung dengan bahan plastik atau polimer dan dibungkus dengan komposit atau carbon fiber serta fiberglass untuk digunakan sebagai bahan tabung CNG 3 kg.
Direktur Jenderal Minyak dan Gas (Dirjen Migas) Kementerian ESDM Laode Sulaeman menyatakan dalam waktu 3 bulan ke depan bakal dilakukan uji coba pengembangan tabung CNG dengan volume 3 kg.
Usai uji coba rampung, produksi tabung CNG 3 kg bakal dimasifkan sehingga dapat segera digunakan masyarakat untuk konversi penggunaan LPG 3 kg.
“Ini bukan di tahap kajian ya, ini sudah di tahap implementasi. Cuma tabung ini kan yang belum ada itu cuma tipe 4 untuk 3 kg. Itulah yang dikejar dalam waktu Pak Menteri sampaikan 3 bulan ke depan itu sudah ada tipe 4 untuk 3 kg dan dari situ nanti kita sudah mulai memproduksi dalam jumlah yang lebih masif,” kata Laode dalam diskusi publik di kawasan Jakarta Selatan, Selasa (5/5/2026).
Di sisi lain, Laode juga memastikan penggunaan CNG dalam tabung 3 kg untuk kebutuhan rumah tangga tidak memerlukan penggantian kompor. Dengan begitu, kompor LPG yang saat ini digunakan masyarakat dapat langsung menggunakan CNG.
Dia memastikan masyarakat tak perlu menyesuaikan kompor yang dimiliki dengan memasang pengonversi (converter) atau alat lainnya.
“Dan apinya lebih panas juga, apinya tetap lebih biru malah kalau saya perhatikan seperti itu. Nah, itulah yang sekarang makanya Lemigas dalam setiap tahapan-tahapan uji tabung kita lakukan, kemudian uji tekan, dan lain-lain ini memang faktor yang paling penting,” tegas Laode.
Dia menambahkan bakal terdapat pilot project atau proyek percontohan yang dijalankan di kota-kota besar di Pulau Jawa.
Proyek percontohan tersebut ditargetkan mulai dijalankan tahun ini, utamanya setelah uji coba tabung CNG 3 Kg rampung dilakukan dalam waktu 3 bulan ke depan.
Di sisi lain, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia sempat memberikan sinyal sistem distribusi CNG 3 kg bakal mirip seperti LPG. Saat ini, kata Bahlil, Kementerian ESDM masih menyusun rencana penerapan program CNG tabung 3 kg.
“Itu kan beda-beda tipis [distribusi CNG dengan LPG]. Ini cuma yang diganti itu adalah satunya LPG, satunya CNG,” kata Bahlil kepada awak media di Kantor Kementerian ESDM, Rabu (6/5/2026).
(azr/wdh)






























