Berkaca Penyerangan AS ke Venezuela, Ancaman Siber Kian Nyata
Redaksi
06 January 2026 20:50

Bloomberg Technoz, Jakarta - Pendiri Indonesia Cyber Security Forum (ICSF) Ardi Sutedja menilai Indonesia tak bisa meremehkan peningkatan ancaman siber di dunia. Hal itu merespons ihwal adanya serangan siber dari Amerika Serikat (AS) terhadap Venezuela, yang berujung pada penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro baru-baru ini.
Pada Sabtu (3/1/2026) Ardi mengatakan dunia sempat digegerkan oleh serangan Washington kepada Caracas, di mana perang elektronika dan siber menjadi penentu utama dalam strategi militer modern. Menurut dia, awal 2026 ini sudah membuka babak baru dalam sejarah keamanan siber global.
Ardi menuturkan, operasi yang melibatkan sinyal intelijen (signal intelligence/SIGINT), penguasaan satelit komunikasi, serta penetrasi radar canggih, menandakan medan tempur telah bergeser dari darat, laut, dan udara ke ruang digital yang tak lagi mengenal batas negara. Peristiwa ini memberi pesan jelas: ancaman siber tidak lagi bersifat hipotetis, melainkan nyata dan bisa memengaruhi stabilitas politik, ekonomi, serta kedaulatan bangsa.
“Indonesia sebagai negara dengan populasi digital yang terus berkembang, tidak dapat memandang enteng eskalasi ancaman siber yang terjadi di tingkat global. Serangan siber yang melibatkan perangkat militer, satelit, dan radar seperti di Caracas, Venezuela, menunjukkan bahwa teknologi digital kini menjadi instrumen utama dalam konflik geopolitik,” kata Ardi lewat keterangan tertulis, dikutip Selasa (6/1/2026).
Dia menambahkan, bukan hanya data yang bakal menjadi sasaran, tetapi juga sistem komunikasi, infrastruktur energi, transportasi, bahkan sistem pemerintahan. Ancaman siber di Indonesia ke depan akan makin beragam: mulai dari spionase digital yang menyasar data strategis pemerintah dan korporasi, hingga sabotase pada infrastruktur kritis seperti listrik, air, dan transportasi.

































