“Kasus konfirmasi HFRS dan berbagai strain virus Hanta di Indonesia sudah teridentifikasi sejak lama. Penelitian dilakukan di berbagai daerah melalui studi Riset Khusus Vektor dan Reservoir Penyakit,” jelasnya.
Dalam studi tersebut, penelitian dilakukan di 29 provinsi untuk memetakan penyebaran tikus dan reservoir pembawa virus. Faktor lingkungan disebut menjadi salah satu penyebab utama penyebaran Hantavirus, terutama wilayah dengan sanitasi buruk dan tingginya populasi tikus.
Kementerian Kesehatan menegaskan hingga saat ini penularan Hantavirus di Indonesia masih didominasi dari hewan ke manusia dan belum ditemukan indikasi penularan luas antarmanusia. Meski demikian, masyarakat tetap diminta meningkatkan kewaspadaan, terutama menjaga kebersihan lingkungan dan menghindari kontak langsung dengan tikus maupun kotorannya.
Pemerintah juga terus memperkuat sistem surveilans dan deteksi dini di berbagai daerah untuk mencegah peningkatan kasus. Selain itu, fasilitas kesehatan diminta aktif melakukan pemantauan terhadap pasien dengan gejala demam yang disertai gangguan ginjal atau riwayat paparan lingkungan berisiko.
Kemenkes mengimbau masyarakat tidak panik, namun tetap waspada terhadap potensi penyebaran penyakit zoonosis tersebut. Edukasi mengenai perilaku hidup bersih dan pengendalian populasi tikus dinilai menjadi langkah penting dalam menekan risiko penularan Hantavirus di Indonesia.
Sebelumnya, Kemenkes RI melaporkan terdapat 23 kasus terkonfirmasi Hantavirus dengan tiga kematian yang tersebar di sembilan provinsi dalam periode 2024 hingga minggu ke-16 tahun 2026. Dengan jumlah tersebut, angka fatalitas kasus atau case fatality rate (CFR) tercatat mencapai 13%.
Pemerintah menjelaskan, HFRS merupakan kelompok penyakit akibat infeksi Hantavirus yang umumnya ditularkan melalui paparan urin, air liur, atau kotoran tikus yang terinfeksi. Penyakit ini dapat menimbulkan gejala seperti demam tinggi, nyeri otot, sakit kepala, hingga gangguan fungsi ginjal.
(dec/del)




























