Lebih lanjut, Tony menjelaskan Rp75 triliun yang disetor Freeport ke pemerintah termasuk dividen kepada PT Mineral Inudstri Indonesia (Persero) atau MIND ID sebesar Rp16,9 triliun.
Selanjutnya, setoran ke pemerintah daerah sebesar Rp13,48 triliun, yang terdiri dari Rp10,6 triliun dibayarkan 2025 dan Rp2,88 triliun yang merupakan pembagian keuntungan bersih perusahaan tahun 2025.
“Perusahaan senantiasa mengedepankan transparansi dan akuntabilitas dalam menjalankan kewajibannya kepada negara dan daerah dengan harapan agar dapat dimanfaatkan untuk sebesar-besarnya kepentingan rakyat di daerah masing-masing,” kata Tony.
Sebagai informasi, Tony sebelumnya mengumumkan perseroan kembali membuka secara terbatas tambang bawah tanah GBC yang sebelumnya ditutup gara-gara mengalami longsor. Namun, perbaikan secara menyeluruh ditargetkan baru akan rampung kuartal I-2027.
Tony mengungkapkan saat ini blok produksi atau production block (PB) 2 dan 3 di tambang GBC sudah dibuka kembali dan dilakukan penambangan terbatas, sementara blok produksi 1 masih ditutup dan perbaikannya ditargetkan rampung pada 2027.
“Saat ini kami masih melakukan proses pemulihan atau recovery di Grasberg Block Cave khususnya Production Block 1 yang memang sangat terdampak pada saat longsor itu terjadi. Sementara itu, untuk Production Block 2 di Grasberg Block Caving dan Production Block 3 itu sudah mulai kami lakukan penambangan secara terbatas,” kata Tony dalam RDP di Komisi XII, medio April.
Tony mengungkapkan perbaikan blok produksi 1 bakal dimulai pada Mei 2026 dan ditargetkan rampung pada kuartal I-2027.
Sejalan dengan pemulihan dan pemeliharaan tambang GBC, Freeport memprediksi produksi bijih tembaga bakal mencapai 200.000 ton per hari pada 2027. Sementara pada tahun ini, target produksi bijih dicanangkan sebesar 156.000 ton per hari.
Adapun, PTFI menargetkan penjualan tembaga sebanyak 1,1 miliar pon atau sekitar 480.000 ton serta emas sebesar 0,83 juta ons atau sekitar 26 ton pada 2026.
Target penjualan tembaga tahun ini turun 8,33% dibandingkan dengan volume penjualan tembaga pada 2025 yang tercatat sebanyak 1,2 miliar pon atau sekitar 544.000 ton.
Sementara itu, target penjualan emas tahun ini anjlok 20,95% dibandingkan dengan penjualan 1,05 juta ons atau sekitar 33 ton pada 2025.
Sekadar catatan, Freeport-McMoRan Inc. (FCX) melaporkan penjualan tembaga PT Freeport Indonesia (PTFI) pada kuartal I-2026 sebanyak 82 juta pon, turun 71,7% dari periode yang sama pada tahun lalu sejumlah 290 juta pon.
Dari sisi produksi, jumlah tembaga yang diproduksi PTFI pada kuartal I-2026 mencapai 95 juta pon atau turun 67,9% dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun lalu sebanyak 296 juta pon.
Dari sisi produksi emas, pada kuartal I-2026 Freeport Indonesia memproduksi emas sebanyak 92.000 ons atau turun 67,6% dari periode yang sama pada tahun lalu sejumlah 284.000 ons.
Penjualan emas pada awal tahun ini tercatat mencapai 116.000 ons atau turun 7,2% dibandingkan dengan periode yang sama pada 2025 sebanyak 125.000 ons.
Dalam laporan keuangannya, FCX mengungkapkan penjualan tembaga dan emas Freeport Indonesia yang lebih rendah terjadi gegara tingkat operasi tambang lebih rendah setelah adanya insiden longsor di GBC pada September 2025.
(azr/ros)































